- Mahfud MD meragukan keterlibatan Luhut Binsar Pandjaitan dalam dugaan korupsi awal proyek Whoosh, menyatakan Luhut baru ditugaskan pada 2020 untuk menyelesaikan proyek yang "sudah busuk"
- Dugaan korupsi berpusat pada proses kontrak awal (2015-2016), terutama perpindahan proyek dari Jepang ke Cina yang menyebabkan bunga pinjaman membengkak drastis dari 0,1% menjadi 3,4%
- Proyek ini dinilai dipaksakan oleh Presiden Jokowi saat itu, yang disebut mengabaikan peringatan ahli dan bahkan memecat Menhub Ignatius Jonan karena menentang kelanjutan proyek dengan skema baru
Suara.com - Di tengah panasnya penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), mantan Menko Polhukam Mahfud MD melontarkan pernyataan mengejutkan. Ia mengaku ragu Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, ikut terlibat dalam skandal ini sejak awal.
Menurut Mahfud, Luhut baru ditugaskan Presiden Joko Widodo untuk menangani proyek ini pada tahun 2020, jauh setelah kontrak awal yang penuh drama diteken pada 2015-2016.
"Bahkan saya juga ragu ya, meskipun orang boleh boleh saja berspekasi. Ragu kalau Pak Luhut itu terlibat di sini. Karena Pak Luhut itu baru diberi tugas sesudah kasus ini bocor dan bosok. Tahun 2020 kan Pak Luhut baru diberi tugas nangani ini," ujar Mahfud dalam sebuah tayangan televisi, Senin (27/10/2025).
Mahfud menegaskan bahwa sebelum 2020, Luhut tidak ikut campur dalam proyek ini. Penugasan Luhut, menurutnya, adalah untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur carut-marut.
"Bukan saya membela Pak Luhut. Saya kira Pak Luhut tidak ikut dari awal kasus ini dan tidak ada yang nyebut kalau di awal ikut. Dia baru tahun 2020 disuruh nyelesaikan dan kata Pak Luhut barang itu sudah busuk gitu," tegas Mahfud.
Meski meragukan keterlibatan Luhut, Mahfud tetap mendorong KPK untuk mengusut tuntas dugaan korupsi dalam proyek yang kini menanggung utang Rp 118 triliun tersebut. Ia sepakat dengan pernyataan Jokowi bahwa transportasi publik bukan untuk mencari untung, namun ia menggarisbawahi bahwa prosesnya tidak boleh diwarnai tindak pidana.
"Kita setujulah kereta apinya bagus. Itu bagi saya tidak harus untung, pasti rugilah namanya untuk pelayanan rakyat. Tetapi tidak boleh juga ada korupsi di situ," kata Mahfud.
Mahfud juga meluruskan bahwa ia bukanlah orang pertama yang mengungkap adanya kejanggalan. Ia menyebut nama ahli Antoni Budiawan yang pertama kali menyinggung kemungkinan adanya mark-up dan kickback, serta Agus Pambagio yang mengungkap adanya pemecatan karena tidak setuju dengan proyek tersebut.
"Yang bilang ada mark-up itu kan bukan saya, Pak Antoni Budiawan," jelasnya.
Baca Juga: Geger Utang Whoosh, Mahfud MD: 1000 Persen Setuju Jokowi, Tapi Usut Tuntas Dugaan Mark Up
Lebih jauh, Mahfud mengungkap bahwa proyek Whoosh sejak awal terkesan dipaksakan oleh Presiden Jokowi. Ia menceritakan bagaimana peringatan dari Menteri Perhubungan saat itu, Ignatius Jonan, yang menyebut proyek ini tidak visibel dan tidak menguntungkan, justru berujung pada pemecatan.
"Pak, ini tidak visible, kata Pak Jonan ke Jokowi. Tapi malahan Pak Jonannya yang dipecat, digantikan," ungkap Mahfud.
Titik awal kecurigaan, menurut Mahfud, adalah perpindahan kontrak secara tiba-tiba dari Jepang ke Cina. Awalnya, proyek ini direncanakan sebagai kerja sama G2G (antar pemerintah) dengan Jepang dengan bunga pinjaman hanya 0,1 persen.
Namun, kesepakatan itu dibatalkan dan dialihkan ke Cina dengan skema B2B (antar bisnis) dengan bunga yang membengkak hingga 3,4 persen.
"Pada saat proses pembuatan kontrak, ya. Pemindahan kontrak dari Jepang ke Cina itu patut dipertanyakan," pungkas Mahfud.
Tag
Berita Terkait
-
Geger Utang Whoosh, Mahfud MD: 1000 Persen Setuju Jokowi, Tapi Usut Tuntas Dugaan Mark Up
-
Geger Utang Whoosh, Bunga Pinjaman China Disebut 20 Kali Lipat Lebih Ganas dari Jepang
-
Luhut Sebut Whoosh 'Busuk' Sejak Awal, Said Didu Heran: Kenapa Kebusukan Itu Tidak Dihentikan?
-
Bukan Cari Cuan, Jokowi Beberkan Alasan Bangun Whoosh Meski Diterpa Isu Korupsi
-
Penyelidikan Perkara Whoosh Masih Fokus Cari Tindak Pidana, KPK Enggan Bahas Calon Tersangka
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
Perkuat Kerja Sama Pendidikan IndonesiaInggris, Prabowo Panggil Mendikti ke Hambalang
-
MAKI Ingatkan Jaksa Jangan Terjebak Manuver Nadiem Makarim
-
Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
-
KPK Bakal Periksa Eks Menaker Hanif Dhakiri Terkait Kasus Korupsi RPTKA
-
Polda Metro Jaya Sita 27 Kg Sabu dan Happy Five Senilai Rp41,7 Miliar di Tangerang
-
Propam Usut Dugaan Salah Prosedur Polisi yang Amankan Pedagang Es Gabus di Johar Baru
-
Bukan Cuma 28, Satgas PKH Ungkap Potensi Gelombang Baru Pencabutan Izin Perusahaan Pelanggar Hutan
-
KAI Daop 1 Rilis Jadwal Mudik Lebaran 2026, Siapkan 37 Ribu Kursi Per Hari
-
Pascabanjir Cengkareng, Sudin LH Jakbar Angkut 187 Ton Sampah dalam 8 Jam
-
Mensos Paparkan Data Bencana Januari 2026: 34 Titik Melanda Indonesia, Jawa Jadi Wilayah Terbanyak