-
Amnesty International kritik pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional karena dinilai tidak transparan.
-
Proses ini dituding sarat konflik kepentingan dan berpotensi menciptakan ekosistem impunitas sempurna.
-
Karena catatan masa lalunya, Amnesty menilai Soeharto bahkan tidak layak masuk dalam nominasi.
Suara.com - Amnesty International Indonesia mengkritik proses pencalonan mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional karena dinilai tidak transparan dan sarat konflik kepentingan. Organisasi hak asasi manusia tersebut menyebut bahwa proses ini menunjukkan adanya "ekosistem impunitas sempurna."
Kritik ini disampaikan dalam konferensi pers bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) di Jakarta, Senin (3/11/2025). Manajer Media Amnesty International Indonesia Haeril Halim menyatakan bahwa seluruh proses, mulai dari seleksi hingga keputusan akhir, berpotensi tidak objektif.
"Ekosistem penganugerahan ini patut dikritisi karena menunjukkan impunitas yang sempurna. Keputusan finalnya berada di istana, yang kita tahu diisi oleh orang yang pernah menjadi bagian dari keluarga Soeharto," ujar Haeril Halim.
Ia juga menyoroti dugaan konflik kepentingan terkait posisi Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, yang menurutnya diisi oleh figur yang sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan saat ini.
"Ini adalah ekosistem impunitas sempurna yang sedang dipertontonkan oleh pemerintah," tegasnya.
Lebih lanjut, Hairul mengatakan adanya upaya sistematis untuk membersihkan dosa-dosa Soeharto dan menulis ulang sejarah Orde Baru. Ia merujuk pada pernyataan beberapa pejabat yang dinilai menyangkal terjadinya pelanggaran HAM berat masa lalu.
"Ada proses penulisan sejarah ulang yang ingin mencuci dosa rezim pada masa Orde Baru," katanya.
Atas dasar catatan sejarah tersebut, Amnesty memandang Soeharto tidak layak untuk diberi gelar pahlawan.
"Atas dasar itulah, Soeharto ini bahkan tidak layak masuk dalam nominasi," pungkas Haeril Halim.
Baca Juga: Amnesty International Ingatkan Prabowo: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Jadi Akhir dari Reformasi
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Setahun Menanti Janji Gubernur, Pedagang Taman Puring Terpuruk dan Terus Menyusut
-
Harga Sawit Riau Terus Meroket, Nyaris Rp4.000 per Kilogram
-
9 Pilihan Warna Lipstik Matte yang Tahan Lama, dari Nude hingga Merah Klasik
-
Cushion Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 7 Rekomendasi Terbaik
-
Aktivasi BRImo Lewat Tring Pegadaian, Dapatkan Cashback Rp25 Ribu
-
Sahroni Usul Bentuk Lembaga Baru, Kelola Aset Sitaan Tak Lagi Tumpang Tindih
-
Berapa Kekayaan Syahrini? Bikin Heboh Pakai Cincin Rp116 M saat Ulang Tahun Anak
-
Miris! Tanah Ditukar Senter, UU IKN Digugat ke MK Demi Bela Hak Masyarakat Adat
-
Geger! Negara Kim Jong-un Suruh Rakyatnya Makan Sup Daging Anjing untuk Atasi Panas Ekstrem
-
Bukan Artis, Sosok Ini Sukses Jadi Influencer Berkat Konten Otomotif