-
Bonnie Triyana sebut pahlawan sejati seharusnya tidak memiliki cacat atau sejarah kelam.
-
Soeharto dinilai meninggalkan banyak luka sejarah, seperti pelanggaran HAM dan krisis ekonomi.
-
Penilaian gelar pahlawan untuk Soeharto sebaiknya diserahkan kepada generasi mendatang yang lebih objektif.
Suara.com - Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menekankan pentingnya melihat fakta sejarah secara utuh dalam menyikapi wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurutnya, seorang pahlawan sejati tidak seharusnya memiliki cacat atau rekam jejak yang kelam.
Legislator PDIP ini menjelaskan, istilah pahlawan sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "orang yang menerima hasil (pahala)" atas perbuatannya. Gelar ini, menurutnya, harus diberikan kepada sosok yang tanpa cela.
"Salah satu syaratnya, dia tidak boleh punya cacat yang bisa membuat nilai-nilai perjuangannya jadi berkurang. Nah, itu syaratnya sangat ketat," kata Bonnie kepada wartawan, Jumat (7/11/2025).
Dengan merujuk pada syarat tersebut, Bonnie menyoroti sejumlah catatan kelam selama 32 tahun masa kepemimpinan Soeharto, mulai dari pemberangusan kebebasan berekspresi hingga krisis ekonomi 1998 yang membuktikan kerapuhan pembangunan Orde Baru.
“Dulu (era Soeharto), kalau ada kritik yang dianggap subversif, orang bisa ditangkap, bahkan hilang. Itu fakta sejarah,” tegasnya.
“Krisis 1998 menunjukkan bahwa apa yang dibangun selama puluhan tahun itu hanya seperti raksasa berkaki lempung, tidak kuat,” sambungnya.
Anggota DPR yang membidangi urusan pendidikan dan kebudayaan itu menegaskan, seorang pahlawan sejati tidak seharusnya meninggalkan luka bagi bangsanya sendiri.
"Pahlawan sejati bukanlah dia yang merepresi kebebasan berekspresi dan melakukan kekerasan terhadap warganya sendiri," ujar Bonnie.
Ia juga menyinggung banyaknya kasus perampasan tanah dan penderitaan rakyat yang terjadi di masa itu, seperti di Waduk Kedung Ombo, Tapos, dan Cimacan.
Baca Juga: Sultan Muhammad Salahuddin, Pahlawan Nasional Baru dari Bima!
Oleh karena itu, Bonnie mengusulkan agar penilaian terhadap tokoh kontroversial seperti Soeharto diserahkan kepada generasi mendatang yang dinilainya akan lebih objektif.
"Mari kita berikan tugas ini kepada generasi penerus agar mereka lebih berjarak dan objektif dalam menentukan mana pahlawan sejati dan mana yang bukan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar