- Paviliun Indonesia di COP30 menjadi platform soft diplomacy untuk menampilkan aksi dan inovasi iklim Indonesia di panggung global, melampaui forum negosiasi formal
- Indonesia mempertegas ambisi iklimnya dengan target Net Zero Emission 2060 dan didukung oleh regulasi baru yang kuat untuk membangun ekosistem karbon nasional
- Melalui regulasi baru tentang Nilai Ekonomi Karbon, Indonesia membuka peluang investasi hijau hingga USD 7,7 miliar per tahun dan berambisi menjadi pusat pasar karbon dunia
Suara.com - Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinan dan komitmennya di panggung iklim global dengan peresmian Paviliun Indonesia yang megah di Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil. Momen ini menjadi penanda keseriusan Indonesia dalam menjalankan diplomasi iklim yang inovatif dan kolaboratif.
Peresmian yang berlangsung khidmat ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim S. Djojohadikusumo. Didampingi sang istri, Anie H. Djojohadikusumo, potongan tumpeng pertama diserahkan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, sebagai simbol sinergi dan harapan baru.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi seperti Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dan Duta Besar RI untuk Federasi Brasil Edi Yusup, serta menarik perhatian perwakilan dari berbagai negara, organisasi internasional, dan sektor non-pemerintah.
Dalam sambutannya, Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa paviliun ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan sebuah arena strategis untuk diplomasi yang lebih luwes dan berdampak.
“Paviliun ini bukan sekadar pameran, tetapi ruang di mana ide bertemu aksi, dan kolaborasi mengubah ambisi menjadi tindakan nyata,” ujar Hashim dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11/2025).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kehadiran Indonesia di forum iklim paling bergengsi ini dilandasi oleh prinsip keadilan dan tanggung jawab bersama. Indonesia berkomitmen penuh untuk menjembatani ambisi iklim global dengan implementasi aksi nyata di lapangan.
Komitmen tersebut dibuktikan dengan langkah-langkah konkret. Pada Oktober 2025, Indonesia telah memperkuat ambisinya melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC), yang memuat target baru menuju Net Zero Emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat.
Terobosan paling signifikan datang dari lahirnya dua regulasi kunci, yaitu Perpres No. 109/2025 tentang Waste-to-Energy dan Perpres No. 110/2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon. Kedua aturan ini menjadi fondasi bagi ekosistem pasar karbon nasional yang berintegritas tinggi, terbuka untuk partisipasi global, dan berpotensi menggerakkan pendanaan hingga USD 7,7 miliar per tahun.
“Indonesia bertekad menjadi pusat global bagi pasar karbon berintegritas tinggi yang menciptakan dampak nyata, lapangan kerja hijau, dan ketahanan masyarakat,” tutur Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi.
Baca Juga: Bagaimana Krisis Iklim Membuat Hutan Dunia Kehilangan Kemampuannya Menyerap Karbon?
Paviliun Indonesia di COP30 dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas sektor, mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, hingga generasi muda untuk memperkuat kemitraan dan menampilkan berbagai inovasi iklim kebanggaan bangsa di panggung dunia.
Berita Terkait
-
Teken MoU dengan ICVCM, Menhut Janji Pasar Karbon Tak Rugikan Masyarakat Adat
-
Indonesia Tegaskan Dukung Penuh Inisiatif Brasil untuk Konservasi Hutan Tropis
-
Bagaimana Krisis Iklim Membuat Hutan Dunia Kehilangan Kemampuannya Menyerap Karbon?
-
Elon Musk Mau Blokir Matahari untuk Atasi Krisis Iklim: Solusi Jenius atau Ide Nyeleneh?
-
Jawab Tantangan Krisis Iklim, Indonesia Gandeng The Royal Foundation di Rio 2025
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu