- Temuan masif kayu gelondongan di banjir Sumatera mendorong desakan publik untuk merevisi UU Kehutanan yang dinilai usang.
- Ketua DPR RI Puan Maharani memprioritaskan penanganan darurat dan keselamatan korban sebelum membahas revisi regulasi.
- Komisi IV DPR RI telah memanggil mitra kerja untuk penjelasan awal, evaluasi mendalam serta Pansus akan menyusul pascabencana.
Suara.com - Temuan material kayu gelondongan dalam jumlah masif yang terseret arus deras banjir di sejumlah wilayah Sumatera baru-baru ini menyulut amarah dan keprihatinan publik. Tragedi ekologis ini sontak memicu desakan kuat agar pemerintah dan parlemen segera merevisi Undang-Undang (UU) Kehutanan yang dinilai sudah tak lagi relevan.
Di tengah pusaran duka dan evakuasi korban, wacana politik untuk mengevaluasi regulasi lingkungan hidup mulai mengemuka di Senayan. Namun, Ketua DPR RI Puan Maharani memilih untuk menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama seluruh elemen bangsa saat ini adalah penanganan darurat bencana dan memastikan keselamatan para korban.
Menurut Puan, pembahasan mendalam mengenai revisi regulasi, termasuk kemungkinan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) untuk menginvestigasi dugaan pembalakan liar, baru akan dilakukan setelah situasi di lapangan benar-benar terkendali dan para korban telah mendapatkan penanganan yang layak.
Meski begitu, Puan memastikan bahwa DPR tidak tinggal diam. Ia mengungkapkan bahwa Komisi IV DPR RI, yang membidangi masalah kehutanan dan lingkungan hidup, telah mengambil langkah proaktif dengan memanggil mitra kerja terkait untuk meminta penjelasan awal mengenai bencana yang terjadi.
“Ya setelah kemarin Komisi IV melakukan memanggil Kementerian Kehutanan, kita akan evaluasi apa saja, bagaimana, dan kapan akan dilakukan. Tentu saja setelah bencana ini selesai ditangani,” ujar Puan saat ditemui di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/12/2025).
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa evaluasi terhadap UU Kehutanan hampir pasti akan masuk dalam agenda legislasi, namun momentumnya akan disesuaikan dengan kondisi pascabencana.
Dalam kesempatan yang sama, Puan juga secara khusus merespons pertanyaan wartawan mengenai urgensi pembentukan Pansus di Komisi IV DPR RI.
Usulan ini mencuat tajam seiring menguatnya dugaan publik bahwa praktik illegal logging menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak banjir, ditandai dengan hanyutnya kayu-kayu besar yang diduga berasal dari aktivitas pembalakan.
Baca Juga: Satgas PKH Mulai Bergerak, Usut Misteri Kayu Gelondongan Banjir Sumatra
Menanggapi hal ini, Puan kembali menunjukkan sikap konsistennya. Ia meminta agar wacana politik atau pembentukan alat kelengkapan dewan yang bersifat khusus seperti Pansus tidak mendahului proses kemanusiaan yang sedang berjalan di lokasi bencana.
Baginya, energi bangsa saat ini harus tercurah untuk membantu para korban bangkit dari keterpurukan.
"Nanti setelah bencana ini selesai diatasi, baru kita bicara tentang pansus,” katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Dari Ferry Irwandi hingga Praz Teguh: Deretan Figur Publik yang Turun Tangan Bantu Korban Bencana
-
KemenP2MI Kirim Logistik Bantuan Darurat untuk Ribuan Korban Banjir & Longsor di Sumatra
-
Satgas PKH Mulai Bergerak, Usut Misteri Kayu Gelondongan Banjir Sumatra
-
Temuan Ferry Irwandi di Langkat, Ribuan Pengungsi Banjir Tidur Berhimpitan di Atas Rel Kereta Api
-
Kapolri Ungkap Jejak Chainsaw di Kayu Gelondongan Banjir, Dugaan Kejahatan Hutan Makin Menguat?
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
Terkini
-
Tunggu Pramono Anung Pulang, Paripurna Ganti Ketua DPRD DKI Digelar 30 April
-
Mengapa Tawuran di Jakarta Tak Pernah Usai? Sosiolog: Mereka Butuh Didengarkan, Bukan Dikhotbahi
-
Mensos Gus Ipul Dorong Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat di Gorontalo dan Pagar Alam
-
Jalur Perdagangan Selat Hormuz Ditutup Donald Trump Membuat Posisi Diplomasi Iran Semakin Terjepit
-
Peduli Kesehatan Perempuan Indonesia, Pertamina Perluas Akses Deteksi Dini Kanker Payudara
-
RUU PPRT Dipercepat, Pemerintah Tegaskan Hak Pekerja Rumah Tangga
-
Kemnaker Salurkan Rp32,25 Miliar untuk Percepat Pemulihan Ekonomi di Sumut dan Aceh
-
Diduga Ada Main Mata Dana CSR, KPK Telusuri Uang Panas di Lingkungan Pemkot Madiun
-
Wamenaker: Kompetisi Teknisi Digital Jadi Pintu Perluas Lapangan Kerja
-
Anne Hathaway Ucapkan Insya Allah Saat Bahas Sekuel The Devil Wears Prada 2