- Presiden Prabowo bedakan antara kritik yang bagus dan fitnah yang merusak.
- Menurutnya, semua agama melarang fitnah, bahkan lebih kejam dari pembunuhan.
- Ia ingatkan bahaya kebohongan yang dapat menimbulkan perpecahan dan kebencian.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya sangat terbuka terhadap kritik dan koreksi, namun menolak keras praktik fitnah dan kebohongan yang dinilainya dapat merusak persatuan bangsa. Ia menekankan bahwa semua agama melarang perbuatan tersebut.
"Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Lho, demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus," kata Prabowo dalam pidatonya di Perayaan Natal Nasional di Tennis Indoor Senayan, Senin (5/1/2026).
Ia menegaskan bahwa fitnah dilarang oleh semua agama.
"Semua agama tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga," sambungnya.
Prabowo lantas mengutip ajaran dalam agama Islam untuk menggambarkan betapa berbahayanya fitnah.
"Kalau di agama Islam ada itu ajarannya, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspada sekarang," kata Prabowo.
Selain fitnah, Presiden juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya kebohongan yang disebarkan untuk memecah belah.
"Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, perpecahan, dan kebencian. Ini bisa merusak kita semua," tegasnya.
Baca Juga: Prabowo Ajak PDIP Kerja Sama Meski di Luar Pemerintahan, Dukung Pramono Jadi Gubernur DKI
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
5 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Pilihan Terbaik Mulai 1 Jutaan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
Terkini
-
Jadi Tersangka Kasus Ijazah Palsu, Wagub Babel Penuhi Panggilan Mabes Polri: Tidak Ada Niat Jahat
-
Terbongkar Love Scamming Lintas Negara di Jogja, Polisi Tetapkan 6 Tersangka
-
KPK Pecah Suara? Wakil Ketua Akui Ada Keraguan Tetapkan Tersangka Korupsi Kasus Haji
-
Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara
-
Kemendagri Terbitkan Aturan Baru untuk Perkuat BPBD di Seluruh Daerah
-
Guru Besar UNM Soroti Pasal Penghinaan di Era 'Big Bang' Transformasi Hukum 2026
-
Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM
-
Tolak Perpres Pelibatan TNI Atasi Terorisme, Koalisi Sipil: Berbahaya Bagi Demokrasi dan HAM
-
Survei UGM: 90,9% Masyarakat Puas Atas Penyelenggaraan dan Pelayanan Transportasi Libur Nataru
-
Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor