Suara.com - Pelataran Sekolah Rakyat menjadi saksi ketika tatapan mata orangtua dan anak saling bertemu. Perbincangan ringan ditemani bekal makanan mengurai rindu yang terpendam dari orangtua kepada anak.
Momen tadi tergambar saat kunjungan rutin orangtua siswa ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Kunjungan sebulan sekali ini menjadi ruang bagi orangtua atau wali untuk melihat perkembangan anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan berasrama di Sekolah Rakyat.
Pengalaman itulah yang dirasakan pasangan Srikatun Suroso (53) dan istrinya, Gustaria (46), warga Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Sejak pagi, keduanya datang menjenguk putri mereka, Kinanti (13), siswa kelas 1 SRMP 2 Kota Medan.
“Perkembangannya banyak, kalau enggak ada SR (Sekolah Rakyat) ini kan, enggak bisa sekolah anak kami,” ujar Suroso dengan suara bergetar.
Kekhawatiran atas kondisi sang putri berkurang karena ia melihat langsung sistem asrama di Sekolah Rakyat sudah berjalan dengan baik. “Di sini termasuk bagus. Dari makanannya, dari kesehatannya, semua dipantau sama wali asrama,” imbuh Suroso.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kinanti tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi keluarga. Kini, Kinanti terlihat lebih disiplin, teratur, dan memiliki sikap yang jauh lebih baik.
“Anak SR itu kebersamaannya ada, kalau lingkungan masing-masing kan ibaratnya, bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali, disiplin dia, sikap dia berubah semua,” kata Suroso yang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan.
Sedangkan ibu Kinanti yang sehari-hari berjualan sayur keliling dan ikan teri, dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari juga merasa terbantu dengan kehadiran Sekolah Rakyat.
“Jualannya pun enggak terlalu banyak, pas-pasan kami, makanya ini adiknya Kinanti pun masih sekolah, kakaknya juga. Makanya berat kalau enggak ada Sekolah Rakyat. Takut enggak sekolah, karena enggak mampu lah,” ungkap Gustaria.
Baca Juga: Sinergi Kemensos dan Komisi VIII DPR Tingkatkan Layanan Korban Perdagangan Manusia
Memiliki empat orang anak yang sudah memasuki usia sekolah dengan kondisi ekonomi yang terbatas, serta biaya pendidikan menjadi beban tersendiri bagi para orangtua siswa Sekolah Rakyat. Tak ayal, ketika tawaran bersekolah datang dari PKH Kementerian Sosial datang, Suroso dan Gustaria bersyukur. Lantaran seluruh kebutuhan Kinanti terpenuhi dengan baik, mulai dari makan, seragam, hingga asrama.
“Kita ini makan ya, asal aja udah rebus bayam, sambel, tempe sudah. Kalau di sini (Sekolah Rakyat) memang (pemenuhan) gizinya bagus, ada ikan, makannya cepat besar, cepat gemuk. Waktu pulang, (Kinanti) naik lima kilo, enggak pernah turun, naik berat badannya,” tutur Suroso lagi.
Suroso pun mengucapkan terima kasih. Baginya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan harapan untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan yang lebih baik bagi anaknya.
“Sekolah Rakyat ini merupakan sekolah untuk orang-orang yang enggak mampu. Ke depannya itu anak-anak jadi bangkit. Umpamanya enggak bisa sekolah, jadi bisa sekolah. Keinginan dia kerja pun ada. Hobi dia, di sini disalurkan. Kalau dia mau cita-cita apa, terjadilah impian-impian anak-anak itu. Terima kasih Pak Prabowo dan Menteri Sosial,” pungkas Suroso. ***
Berita Terkait
-
Sinergi Kemensos dan Komisi VIII DPR Tingkatkan Layanan Korban Perdagangan Manusia
-
Bansos PKH dan Sembako Sudah Cair di Bulan Ramadan
-
Peran Wali Asrama dalam Membentuk Karakter dan Disiplin Siswa Sekolah Rakyat
-
DTSEN Rayakan Satu Tahun, Pemutakhiran Data Terus Diperkuat
-
Wamensos Agus Jabo: Siswa Sekolah Rakyat Masuk Tanpa Seleksi Akademis
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik