- Pasca-banjir tujuh minggu di Aceh Tamiang dan Aceh Timur, warga hadapi krisis kesehatan serta minimnya akses air bersih.
- WALHI mengungkap melalui diskusi bahwa lumpur kering picu ISPA, sementara air keruh menyebabkan penyakit kulit dan sulit dimasak.
- Bencana disebut ekologis akibat izin industri serampangan di hulu sungai, menuntut negara segera melakukan audit ekologis.
Menurutnya, banjir ekstrem yang terjadi merupakan akumulasi dari pengabaian krisis ekologis selama bertahun-tahun, terutama dalam tata kelola sumber daya alam dan pemberian izin tanpa pertimbangan kapasitas ekosistem.
Menagih Mandat Konstitusi
Kondisi Aceh Tamiang kini menjadi potret rapuhnya perlindungan negara terhadap warga di tengah krisis iklim. WALHI mendesak pemerintah segera melakukan audit ekologis menyeluruh serta mencabut izin perusahaan yang terbukti merusak wilayah hulu sungai. Pemulihan ruang hidup dan ekonomi rakyat dinilai harus menjadi prioritas utama.
“Kejadian saat ini membuktikan bahwa negara gagal dalam menjalankan mandat konstitusinya dalam melindungi rakyat dan ruang hidupnya. Yang seharusnya negara berpihak pada kehidupan, bukan justru memproduksi kerusakan-kerusakan berikutnya,” kata Abdul Hadi.
Menutup diskusi, Manager Penanganan dan Pencegahan Bencana Eknas WALHI, Melva Harahap, mengingatkan kembali amanat Pasal 33 UUD 1945 bahwa kekayaan alam harus dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Pasal 33 itu bunyinya air, bumi, udara, tanah air sampai atmosfer sana itu dimiliki oleh negara, dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jadi kita harus kawal negara ini, jangan sampai pasal itu berubah bunyi: rakyat silakan terimalah banjir, terimalah kebakaran hutan,” pungkas Melva.
Ia menutup dengan kutipan Mahatma Gandhi, menegaskan bahwa bencana ini bukan peristiwa tunggal.
“Bumi ini cukup untuk banyak orang, tapi tidak pernah cukup untuk satu orang yang serakah. Bencana kali ini jelas bencana ekologis.”
Reporter: Dinda Pramesti K
Baca Juga: Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Menkes Budi: Cowok Perokok Red Flag, Perempuan Bakal Tanggung Risiko Kanker
-
Gugatan Dikabulkan, Komisi Informasi Pusat Wajibkan KPU Serahkan Salinan Ijazah Jokowi
-
BMKG Rilis Peringatan Dini, Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Landa Jakarta Hari Ini
-
Fauzan Ohorella Soroti Kasus Ijazah Jokowi yang Mandek, Polda Metro Jaya Diminta Bertindak Tegas
-
Kerry Riza Ajak Masyarakat Lihat Perkaranya Berdasarkan Fakta Bukan Fitnah
-
Dugaan Korupsi Minyak Mentah: Saksi Bantah Ada Kontrak Sebut Tangki BBM OTM Jadi Milik Pertamina
-
Menuju JFSS 2026, Pemerintah dan Kadin Sepakat Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Nasional
-
Aceh Tamiang Dapat 18 Rumah Rehabilitasi, Warga Bisa Tinggal Tenang
-
Usai di Komdigi, Massa Demo Datangi Polda Metro Jaya Minta Usut Kasus Mens Rea
-
Profil Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa: dari Pilot ke Pemimpin Provinsi Baru