News / Nasional
Rabu, 14 Januari 2026 | 17:04 WIB
Ilustrasi Mitigasi Risiko Korsleting Saat Banjir. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Tiga warga di Cilincing, Jakarta Utara meninggal tersengat listrik pada 12 Januari 2026 akibat instalasi listrik bocor di tengah genangan banjir.
  • Air banjir menghantarkan listrik karena mengandung mineral dan garam, sementara kulit basah mengurangi resistensi tubuh terhadap sengatan mematikan.
  • DPRD mendesak evaluasi total PLN dan Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan sosialisasi dan kesiapan memutus aliran listrik saat terjadi banjir.

Suara.com - Senin pagi, 12 Januari 2026, kawasan Cilincing, Jakarta Utara, tidak hanya diselimuti oleh mendung yang menggelayut rendah, tetapi juga oleh duka yang mendalam.

Kala warga berjuang membersihkan genangan sisa banjir dari sudut-sudut rumah, maut justru datang mengintai lewat aliran listrik yang tak kasat mata. Tiga nyawa melayang dalam waktu yang hampir bersamaan, meninggalkan duka yang menyesakkan dada.

Kejadian pertama bermula di sebuah rumah di Kelurahan Kalibaru. Pukul sembilan pagi, Maya Saputri (43), seorang ibu rumah tangga, sedang sibuk bergelut dengan genangan air yang mengotori lantai rumahnya.

Namun, rutinitas yang biasa ia lakukan saat musim penghujan itu berakhir tragis. Maya ditemukan tergeletak tak bernyawa di tengah genangan, tersengat aliran listrik yang diduga bocor saat ia tengah membersihkan rumah.

Hanya berselang waktu singkat, kabar memilukan lainnya datang dari Kelurahan Semper Barat. Di sebuah rumah yang juga terkepung banjir, keheningan pecah oleh jerit histeris seorang anak.

Ia menemukan kedua orang tuanya, Hadi Warno (54) dan Naning Juniarty (49), dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Pasangan suami istri itu ditemukan mengambang di ruang tengah rumah mereka yang sudah terendam air.

Berdasarkan temuan awal di lapangan, penyebab kematian pasangan suami istri ini mengarah pada satu benda yang tampak sepele namun mematikan, sebuah kabel kulkas yang telah terkelupas.

Kabel yang terbuka itu terendam air banjir, mengubah genangan di ruang tengah menjadi penghantar listrik yang mematikan bagi siapa pun yang menyentuhnya.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi warga di kawasan rawan banjir. Di balik genangan air yang mengganggu aktivitas, ada bahaya tersembunyi yang bisa merenggut nyawa dalam sekejap.

Baca Juga: WALHI Sebut Negara Gagal Lindungi Rakyat dan Ruang Hidup Korban Bencana

Hari itu, Cilincing tidak hanya kehilangan tiga warganya, tetapi juga meninggalkan luka yang membekas tentang betapa rapuhnya nyawa di tengah kepungan bencana.

Listrik, Perangkap Mematikan di Balik Keruhnya Air Banjir

Bagi banyak orang, banjir mungkin hanya dianggap sebagai gangguan logistik atau kotoran yang menyebalkan. Namun, di balik permukaannya yang tenang, tersimpan bahaya mematikan yang tidak mengeluarkan suara, tidak berbau, dan tidak kasat mata, listrik.

Secara teknis, air murni sebenarnya adalah isolator yang baik. Namun, air banjir bukanlah air murni.

Saat ia mengalir melewati jalanan, selokan, dan masuk ke rumah, ia membawa serta "pasukan" mineral, garam, limbah, hingga bahan kimia. Zat-zat ini mengubah genangan air menjadi jalur tol bagi arus listrik (elektrolit).

Satu kabel yang terkelupas atau satu stop kontak yang terendam di ujung gang sudah cukup untuk mengubah seluruh genangan di sekitar menjadi medan maut yang aktif.

Bahayanya tidak berhenti pada sifat airnya, tetapi juga pada bagaimana tubuh kita bereaksi. Dalam kondisi normal dan kering, kulit manusia adalah benteng pertahanan yang luar biasa. Ia memiliki hambatan (resistensi) alami yang kuat untuk menahan aliran listrik.

Namun begitu melangkah ke dalam banjir dan kulit basah kuyup, benteng itu runtuh. Hambatan tubuh menurun drastis, membiarkan arus listrik masuk ke dalam jaringan tubuh dengan volume yang jauh lebih besar dan mematikan.

Di sini lah kengerian yang sebenarnya terjadi. Seringkali, kita membayangkan tersengat listrik akan membuat seseorang terpental.

Kenyataannya, pada arus yang sangat kecil sekalipun, hanya sekitar 10 hingga 30 miliampere, otot manusia akan mengalami kontraksi hebat yang disebut "efek kaku". Tubuh akan terkunci, dan tidak akan bisa memerintahkan kaki untuk melangkah atau tangan untuk melepaskan pegangan.

Tragisnya, meski air hanya setinggi lutut, seseorang yang terkena efek "lumpuh" ini akan jatuh tersungkur dan tidak mampu bangkit kembali. Mereka bisa tenggelam di air yang dangkal hanya karena otot mereka tidak lagi berada di bawah kendali sendiri.

Tidak seperti api yang terlihat berkobar atau gas yang menyengat hidung, listrik dalam air adalah invisible hazard. Arus listrik bisa merambat jauh dari titik asalnya. Pagar besi yang jadi pegangan untuk keseimbangan, atau tiang lampu yang didekati agar tidak terpeleset, bisa saja telah terionisasi dan menjadi objek yang "hidup" oleh aliran listrik.

Infografis Mitigasi Risiko Korsleting Saat Banjir. (Suara.com)

Alarm Keras dari Legislator Kebon Sirih

Tragedi Cilincing membuat DPRD DKI Jakarta bergejolak. Bagi para legislator, nyawa warga tidak bisa ditawar dengan alasan teknis batas kewenangan. Mereka menuntut satu hal, evaluasi total kinerja PLN.

Ima Mahdiah, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, berdiri dengan nada bicara yang penuh penekanan. Baginya, kematian tiga warga ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan pengingat keras betapa rapuhnya sistem keamanan listrik kita saat bencana tiba.

"Tragedi ini adalah pengingat bahwa bahaya listrik saat banjir adalah ancaman nyata yang sering kita abaikan," ujar Ima.

Ia tak hanya meminta warga untuk waspada, tetapi juga menunjuk hidung pihak-pihak yang bertanggung jawab atas infrastruktur. Ima mendorong agar PLN dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak lagi bekerja dalam pola lama.

"Saya mendorong agar Pemprov dan PLN melakukan sosialisasi masif dan memastikan kesiapan memutus aliran listrik di wilayah banjir. Jangan sampai tragedi ini terulang lagi. Mari kita saling menjaga," tegasnya.

Senada dengan Ima, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta lainnya, Wibi Andrino, melontarkan kritik yang tak kalah tajam.

Wibi melihat ada celah besar dalam standar operasional prosedur (SOP) penanganan darurat saat banjir. Ia menilai PLN tidak bisa berlindung di balik argumen "kerusakan instalasi internal" jika aliran listrik ke kawasan terdampak tetap dibiarkan mengalir.

"Ini peringatan bahwa banjir bukan hanya soal genangan air, tetapi ancaman serius terhadap keselamatan jiwa akibat instalasi listrik yang tidak aman," ungkap Wibi.

Di mata Wibi, DPRD DKI Jakarta memandang perlu adanya tindakan tegas dan evaluasi menyeluruh. Ia mempertanyakan kesiapsiagaan aparat di wilayah dan kecepatan respons PLN dalam memutus arus listrik di kawasan rawan.

Tanggung jawab moral dan profesional harus dipikul oleh pihak terkait untuk memastikan sistem kelistrikan benar-benar aman saat bencana melanda.

Mengapa Sakelar Tak Kunjung Turun?

Di ruang kendali PLN, para petugas memantau layar dengan saksama. Bagi mereka, banjir bukan sekadar urusan air, melainkan tentang menjaga keseimbangan antara keselamatan nyawa dan denyut nadi kota.

Hingga tengah hari itu, laporan menunjukkan bahwa sebagian besar infrastruktur kelistrikan Jakarta masih dalam kondisi aman. Gardu-gardu induk tetap berdiri kokoh di atas permukaan air, kering dan berfungsi normal.

PLN tidak bisa serta-merta mematikan aliran listrik ke seluruh kota. Ada Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat yang harus dipatuhi. Listrik hanya akan diputus jika air mulai menjilat gardu distribusi, merendam rumah warga, atau jika kedua kondisi itu terjadi bersamaan.

Di wilayah yang airnya mulai naik namun belum mencapai batas bahaya, listrik tetap dipertahankan. Listrik adalah napas bagi pompa-pompa polder milik pemerintah.

Jika listrik dipadamkan terlalu dini, pompa pembuangan air akan mati, dan genangan di pemukiman justru akan naik lebih cepat, memperparah keadaan. Itulah mengapa di beberapa titik, warga yang belum mengungsi masih bisa melihat lampu rumah mereka menyala, memberi sedikit rasa tenang di tengah kepungan air.

"Pemadaman secara menyeluruh itu kan situasional, karena bisa sangat berdampak," terang pengamat tata kota, Yayat Supriatna.

Namun, di balik upaya menjaga stabilitas tersebut, "bahaya tersembunyi" mengintai di sudut-sudut yang tak terjangkau oleh sensor PLN.

Duka yang pecah di Cilincing, Jakarta Utara memang bukan berasal dari kegagalan gardu PLN, melainkan dari instalasi internal rumah. Diduga kuat, sebuah kabel kulkas yang terkelupas terendam air, mengubah genangan di lantai rumah menjadi konduktor yang mematikan.

Namun, tragedi Cilincing tetap menjadi pengingat pahit tentang batasan wewenang dan teknologi. PLN memiliki kendali atas gardu dan jaringan distribusi besar, namun mereka buta terhadap apa yang terjadi di balik meteran listrik setiap rumah.

Tanpa adanya permintaan manual dari warga untuk pemutusan aliran atau banjir besar yang merendam gardu induk, arus akan terus mengalir, meski ada kabel yang terkelupas di dalam air.

Langkah Sigap Putus Arus Kala Banjir Kuasai Rumah

Banjir mungkin datang tanpa permisi, namun dengan ketenangan dan langkah mitigasi yang tepat, rumah dan keluarga bisa terjaga dari bahaya yang jauh lebih besar.

Jangan dulu berpikir untuk menyelamatkan sofa atau barang berharga lainnya. Dengan tangan yang kering, segera turunkan saklar MCB (Miniature Circuit Breaker).

"Itu bisa dilakukan dari internal rumah kita," ujar Yayat.

Keberadaan ELCB, alat pintar yang langsung memutus listrik saat mendeteksi kebocoran arus, juga jadi instalasi wajib yang harus tersedia di hunian rawan tergenang. "Itu bisa otomatis mati," kata Yayat.

Lepaskan juga semua kabel yang masih menancap di stop kontak. Bayangkan setiap kabel adalah jalur api yang siap memicu ledakan kecil jika terendam.

"Air kan sifatnya hantaran yang paling cepat," jelas Yayat lagi.

Jika harus berjalan menembus genangan di dalam rumah, keberadaan alas kaki berbahan karet tidak kalah penting. Bukan sekadar pelindung dari kotoran, melainkan juga isolator yang menjaga tubuh dari potensi arus bocor yang mungkin masih tersisa.

"Kan itu risiko juga, pas lagi ada genangan. Kalau memang diperlukan, sarung tangan juga," tutur Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike.

Mengajarkan mitigasi kepada masyarakat juga bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Keamanan di dalam maupun di luar rumah sangat bergantung pada kesigapan memutus mata rantai bahaya.

Potensi korsleting selalu mengintai di setiap sudut instalasi listrik yang terendam. Kesadaran untuk mengecek kembali setiap jengkal kabel yang terkelupas atau instalasi yang basah adalah kunci untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

"Itu memang perlu pemahaman dan kesigapan," tandas Yayat.

Load More