- PTUN Jakarta pada 14 Januari memeriksa ahli psikolog Livia Iskandar dalam gugatan Menteri Fadli Zon terkait penyangkalan tragedi Mei 1998.
- Livia, mantan koordinator layanan penyintas Komnas Perempuan, menyatakan layanan psikologis profesional baru tersedia mulai tahun 2002.
- Kesaksian ahli mengungkapkan bahwa pemerkosaan massal 1998 sangat traumatis karena terjadi secara berkelompok dalam situasi huru-hara.
Suara.com - Kasus gugatan atas pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait penyangkalan pemerkosaan massal pada tragedi Mei 1998 berlanjut pada pemeriksaan saksi dan ahli di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Kamis (14/1).
Salah satu ahli yang dihadirkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Indonesia sebagai penggugat ialah psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Livia Iskandar. Ia dihadirkan sebagai saksi ahli karena pernah menjabat sebagai koordinator divisi services for survivors atau layanan untuk penyintas di Komnas Perempuan pada tahun 2001–2002.
Persidangan berlangsung normal dengan Livia menjawab setiap pertanyaan Majelis Hakim dengan lancar. Ketika pemeriksaan baru berjalan sekitar 10 menit, Livia meminta izin untuk minum dan diperbolehkan oleh Majelis Hakim.
Tak sampai 15 menit, ia kembali meminta izin untuk minum. Kendati diperbolehkan, tindakan Livia kemudian membuat hakim menegurnya.
"Kenapa minum terus? Anda memang gampang haus?" tanya ketua majelis hakim kepada Livia.
Livia kemudian mengaku bahwa topik pemerkosaan massal tragedi Mei 1998 terasa berat baginya sebagai seorang psikolog yang pernah berhadapan langsung dengan para korban.
"Karena ini topiknya berat bagi saya," ujarnya.
Dalam kesaksiannya, Livia menyampaikan bahwa pada tahun 1998 baru ada beberapa layanan pendampingan korban kekerasan. Namun, belum tersedia layanan pendampingan psikologis dan kesehatan mental yang dilakukan oleh psikolog maupun psikiater profesional.
Baru pada tahun 2002, kumpulan para psikolog memutuskan untuk membentuk layanan psikologis bagi korban kekerasan.
Baca Juga: Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie
"Kami langsung memberikan layanan tersebut sampai sekarang, hampir 20 tahun," ujar Livia.
Ia menerangkan bahwa individu yang mengalami peristiwa traumatik seperti kekerasan dapat membentuk cara pandang terhadap dirinya menjadi berbeda. Tragedi pemerkosaan massal pada tahun 1998 disebut sebagai pengalaman yang sangat traumatis bagi para korban.
"Apalagi kejadian ini dilakukan secara ramai-ramai, dalam kerusuhan penjarahan, dan dalam situasi chaos. Jadi, pertama, untuk korban kekerasan seksual, itu memang sangat berat sekali dinamika psikologisnya," kata Livia.
Berita Terkait
-
Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie
-
Ciri-Ciri Pelaku Grooming Menurut Psikolog, Dikaitkan dengan Sosok Bobby di Memoar Broken Strings
-
Kenapa Pelaku Child Grooming Sering Denial? Psikolog Anak Ungkap 10 Pola Pikir Ini
-
Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans, 7 Alasan Psikologis Korban Child Gromming Tak Bisa Melawan
-
Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Predator di Balik Tembok Pesantren: Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Sulit Diungkap?
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi