- Klaim Presiden RI mengenai Indonesia negara paling bahagia nomor 1 dunia 2025 bertolak belakang data global.
- World Happiness Report 2025 menempatkan Finlandia di peringkat teratas, sementara Indonesia berada di posisi 83.
- Data Bank Dunia 2025 menunjukkan lonjakan drastis penduduk miskin Indonesia akibat pembaruan standar garis kemiskinan.
Suara.com - Klaim Presiden RI Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa Indonesia unggul sebagai negara paling bahagia nomor 1 di dunia berdasarkan riset Harvard & Gallup tahun 2025 menjadi sorotan ketika dihadapkan pada gambaran kemiskinan ekstrem dunia versi Bank Dunia 2025.
Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia justru masih berada dalam tantangan besar untuk mengatasi tingkat kemiskinan yang masih tinggi.
Klaim Indonesia sebagai negara paling bahagia versi riset Harvard itu bertolak belakang dengan data World Happiness Report 2025 dalam kategori yang sama.
Riset World Happiness Report 2025 yang disusun oleh Wellbeing Research Centre Universitas Oxford dan Gallup mencatat negara-negara berikut memuncaki daftar kebahagiaan global:
Peringkat – Negara – Skor Kebahagiaan (0–10)
- Finlandia ~7,74
- Denmark ~7,58
- Islandia ~7,52
- Swedia ~7,34
- Belanda ~7,31
- Costa Rica ~7,27
- Norwegia ~7,26
- Israel ~7,23
- Luksemburg ~7,12
- Meksiko ~6,98
Laporan ini mengukur kebahagiaan melalui survei Gallup terhadap penilaian kehidupan yang dilakukan di lebih dari 140 negara, dengan memperhitungkan dukungan sosial, harapan hidup yang sehat, kebebasan, serta persepsi terhadap korupsi dalam proses penilaian.
Sementara itu, Indonesia sendiri berada jauh di luar daftar 10 besar. Laporan independen menyebut peringkat Indonesia berada di posisi ke-83 dari 147 negara dalam indeks kebahagiaan global.
Perbedaan Jumlah Rakyat Miskin Versi Pemerintah RI dan Bank Dunia
Data yang disusun Pemerintah RI melalui Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 24 juta jiwa atau 8,57 persen dari total penduduk. Angka tersebut berdasarkan perhitungan terbaru BPS dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dipetakan pada 2025.
Indikator DTSEN memetakan jumlah masyarakat miskin berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp600.000.
Baca Juga: Alasan Jay Idzes dan Kevin Diks Absen Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
Selain itu, terdapat kategori masyarakat miskin ekstrem dengan jumlah sekitar 3,57 juta jiwa atau sekitar 1,13 persen dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini ditentukan berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp400.000.
Sementara itu, Bank Dunia (World Bank) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia melonjak drastis hingga mencapai 194,6 juta jiwa. Angka tersebut merujuk pada laporan bertajuk June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform yang secara resmi mengubah standar garis kemiskinan global.
Perubahan tersebut didasarkan pada pembaruan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP), dari sebelumnya PPP 2017 menjadi PPP 2021, yang dipublikasikan oleh International Comparison Program (ICP) pada Mei 2024.
Perhitungan berbasis PPP merupakan standar pengukuran untuk membandingkan biaya yang dibutuhkan dalam membeli barang dan jasa yang sama di satu negara dengan negara lain setelah penyesuaian daya beli dilakukan.
Namun, nilai dolar AS dalam perhitungan PPP bukanlah kurs nilai tukar yang berlaku saat ini, melainkan nilai paritas daya beli.
Dengan mengadopsi PPP 2021, terjadi perubahan pada tiga lini garis kemiskinan. Untuk garis kemiskinan internasional (international poverty line) yang menjadi acuan kemiskinan ekstrem, batas tersebut naik dari sebelumnya US$2,15 pada PPP 2017 menjadi US$3,00 berdasarkan PPP 2021.
Berita Terkait
-
Alasan Jay Idzes dan Kevin Diks Absen Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
-
Ogah Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Pelatih Keturunan Ini Justru Merapat ke Tottenham Hotspur
-
Jay Idzes dan Kevin Diks Absen di Piala AFF 2026, John Herdman Santai
-
Tekad Putus Kutukan Runner-up! Rizky Ridho Pasang Target Juara Piala AFF 2026 di Era John Herdman
-
Teror Jalur Pantura Dimulai, Alas Roban Suskes Hantui 176 Ribu Penonton di Hari Pertama
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
FPI Ancam Polisikan Pandji Pragiwaksono Buntut Stand Up Komedi Mens Rea
-
Jokowi Terima Restorative Justice, Polda Metro Terbitkan SP3 untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis
-
Eggi Sudjana Ajukan Restorative Justice di Kasus Ijazah Jokowi, Jadi Jalan Damai Tanpa Pengadilan?
-
Istana Bicara Soal RUU Anti Propaganda Asing, Berpotensi Bungkam Kritik?
-
Jadi Alat Melakukan Tindak Pidana: Akun IG Laras Faizati Dimusnahkan, iPhone 16 Dirampas Negara
-
KPK Sebut Ketua PDIP Jabar Diduga Kecipratan Duit Kasus Ijon Proyek Bekasi, Berapa Jumlahnya?
-
Pola Korupsi 'Balik Modal Pilkada' Jerat Bupati Bekasi? KPK Cium Modus Serupa Lampung-Ponorogo
-
Mulai Dibahas DPR, Analis Ingatkan RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Sandera Lawan Politik
-
Dilantik Sebagai Ketua Perwosi, Tri Tito Karnavian Komitmen Tingkatkan Kualitas Kesehatan Keluarga
-
Hakim Ad Hoc Ngeluh Tunjangan 13 Tahun Stagnan, KY Bilang Begini