- Kapal tanker berbendera AS, Stena Imperative, diserang proyektil diduga Iran di Pelabuhan Bahrain pada Senin (2/3/2026).
- Serangan drone atau rudal Iran menyebabkan kebakaran yang berhasil dipadamkan; seluruh kru kapal berhasil dievakuasi selamat.
- Insiden ini terjadi saat jalur pelayaran vital di Selat Hormuz lumpuh total, memicu kenaikan harga energi global.
Suara.com - Konflik di wilayah Teluk semakin membara setelah sebuah kapal tanker minyak berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative, dilaporkan menjadi sasaran serangan udara pada Senin (2/3/2026).
Dilansir via CBS, kapal tersebut dihantam oleh proyektil yang diduga kuat berasal dari pesawat nirawak (drone) atau rudal milik pasukan Iran.
Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh kantor berita Reuters dan sejumlah media internasional yang mengutip data dari firma keamanan maritim, Vanguard Tech.
Insiden ini menandai serangan langsung terbaru terhadap aset maritim Amerika di tengah berkecamuknya perang regional.
Kronologi Serangan di Pelabuhan Bahrain
Menurut keterangan dari Vanguard Tech, dua proyektil Iran menghantam kapal saat berada di area Pelabuhan Bahrain.
Ledakan tersebut sempat memicu kebakaran di bagian kapal, namun otoritas setempat berhasil memadamkan api tak lama kemudian.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga mengonfirmasi adanya serangan tersebut. Meski awalnya tidak menyebutkan nama kapal secara spesifik, UKMTO memastikan bahwa seluruh awak kapal dalam kondisi selamat.
Status Kru: Semua anggota kru telah dievakuasi dari kapal demi keselamatan.
Baca Juga: Dubes Iran Respons Niat Prabowo Jadi Juru Damai, Begini Katanya
Kondisi Kapal: Kapal tetap berada di pelabuhan pasca-pemadaman api untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari otoritas keamanan Amerika Serikat terkait insiden di Bahrain tersebut.
Serangan terbaru di pelabuhan ini terjadi ketika jalur pelayaran vital di lepas pantai Iran, Selat Hormuz, dilaporkan telah lumpuh total sejak perang meletus pada Sabtu lalu.
Ketidakpastian keamanan membuat lalu lintas distribusi minyak mentah dunia terhenti, yang berdampak pada lonjakan harga energi di pasar global.
Berita Terkait
-
Menhan AS Sebut Operasi Militer Lawan Iran Bukan Perang Tanpa Akhir
-
Airlangga Wanti-wanti Harga BBM Naik Imbas Perang AS-Iran
-
Arab Saudi Cegat Drone di Dekat Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base
-
Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran: Pelanggaran Berat Hukum Internasional
-
Jumlah Tentara AS Tewas di Perang Iran Bertambah
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
Pilihan
-
Jumlah Tentara AS Tewas di Perang Iran Bertambah
-
Percakapan Terakhir Ali Khamenei Sebelum Dibom Israel-AS Terungkap: Menolak Masuk Bunker
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
Terkini
-
Menhan AS Sebut Operasi Militer Lawan Iran Bukan Perang Tanpa Akhir
-
Catat Waktunya, Jadwal Lengkap Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 di Seluruh Wilayah Indonesia
-
Horor Sahur di Bekasi: Perampokan Maut di Jatibening, Suami Tewas dan Istri Kritis
-
Arab Saudi Cegat Drone di Dekat Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base
-
Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran: Pelanggaran Berat Hukum Internasional
-
Jumlah Tentara AS Tewas di Perang Iran Bertambah
-
Pemkot Jakbar Segel Lapangan Padel di Kembangan yang Beroperasi Tanpa Izin Lengkap
-
Kuwait Tembak Jatuh 3 Pesawat Tempur F-15 Amerika Serikat
-
Wilayah Udara Timur Tengah Ditutup, Ditjen Imigrasi Berlakukan Izin Tinggal Terpaksa untuk WNA
-
Alarm Merah! 75 Ribu Pelajar di Bandung Terindikasi Gangguan Mental