News / Nasional
Senin, 02 Maret 2026 | 20:46 WIB
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (Xinhua/Peng Ziyang)
Baca 10 detik
  • Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan serangan bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran, bukan membangun demokrasi.
  • Serangan presisi AS terhadap Iran terjadi sebagai respons atas eskalasi konflik tajam di kawasan Timur Tengah.
  • AS terus mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah meskipun Ketua Kepala Staf Gabungan memprediksi pencapaian tujuan membutuhkan waktu.

Suara.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran tidak akan berujung pada perang tanpa akhir. Ia menyatakan tujuan utama serangan adalah menghancurkan kemampuan militer Teheran, termasuk sistem rudal, angkatan laut, dan infrastruktur keamanan lainnya.

“Kami menyerang mereka secara presisi, masif, dan tanpa permintaan maaf,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, Senin (3/2/2026).

Hegseth menekankan bahwa perang melawan Iran bukanlah upaya membangun demokrasi atau melakukan rekayasa politik di negara tersebut.

“Tidak ada aturan keterlibatan yang bodoh, tidak ada jebakan pembangunan bangsa, tidak ada agenda membangun demokrasi. Tidak ada perang yang bersifat politis. Kami berperang untuk menang dan tidak menyia-nyiakan waktu maupun nyawa,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengatakan bahwa pencapaian tujuan militer di Iran akan membutuhkan waktu. Ia juga memperingatkan bahwa korban tambahan di pihak AS masih mungkin terjadi.

Caine menambahkan, Amerika Serikat terus mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah, meskipun sebelumnya telah melakukan pengerahan militer besar-besaran di kawasan tersebut.

Pernyataan para pejabat AS ini muncul di tengah eskalasi konflik tajam di Timur Tengah, menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan peluncuran rudal ke wilayah Israel serta ke target militer AS di kawasan.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga melancarkan serangan ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, memicu ledakan di berbagai kota dan menimbulkan korban jiwa, termasuk di Bahrain. Infrastruktur sipil, mulai dari bandara hingga fasilitas energi, turut terdampak.

Ketegangan semakin memburuk setelah Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan Washington. Pejabat tinggi Iran menuding kebijakan Presiden AS Donald Trump telah menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan.

Baca Juga: Airlangga Wanti-wanti Harga BBM Naik Imbas Perang AS-Iran

Di tengah situasi tersebut, militer AS mengakui adanya korban di pihaknya, dengan US Central Command sebelumnya mengumumkan bertambahnya jumlah tentara AS yang tewas dalam konflik. Dengan operasi yang masih berlangsung dan pengerahan pasukan tambahan, kekhawatiran akan meluasnya perang di Timur Tengah kian meningkat.

Load More