- BGN lakukan sidak dini hari ke sejumlah dapur MBG di Cianjur.
- Ditemukan banyak masalah infrastruktur, seperti atap dan lantai tidak standar.
- Sidak meliputi lima aspek, dari infrastruktur, sanitasi, hingga mutu gizi.
Suara.com - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke sejumlah dapur penyedia Makan Bergizi Gratis/MBG yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hasilnya, BGN menemukan masih adanya persoalan infrastruktur, terutama pada bagian atap dapur yang belum memenuhi standar operasional prosedur (SOP).
Sidak dilakukan di sejumlah SPPG yang berada di wilayah Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (19/1) mulai pukul 02.00 dini hari hingga sekitar pukul 05.00 pagi. Dapur yang didatangi di antaranya, SPPG Cianjur Cipanas Palasari 3, SPPG Cianjur Pacet Sukanagalih 1, SPPG Cianjur Pacet Sukanagalih 2, dan SPPG Cianjur Cipanas Palasari 1.
Tenaga Ahli Investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) Herman Susilo mencatat sejumlah hal penting. Secara umum, persoalan terbesar yang ditemukan berada pada aspek infrastruktur.
“Yang paling banyak harus diperbaiki itu infrastruktur. Atap dapur di beberapa SPPG masih belum sesuai standar,” ungkap Herman usai lakukan sidak di dapur terakhir, Senin (19/1/2026).
Selain atap, BGN juga menemukan kondisi lantai yang masih perlu ditingkatkan, termasuk penggunaan pengecatan epoxy yang sesuai standar dapur pangan. Dinding dapur pun dinilai belum memenuhi ketentuan karena cat yang digunakan belum waterproof dan belum seluruhnya food grade.
“Masih ada juga sekat-sekat ruang yang perlu diperbaiki. Secara umum, infrastruktur dapur memang masih perlu banyak peningkatan,” ucap Herman.
Dia menyebutkan kalau sidak termasuk bagian dari kegiatan rutin untuk memastikan kualitas pelaksanaan program MBG tetap sesuai standar yang ditetapkan.
“Sidak ini adalah aktivitas rutin BGN untuk menjaga standar kualitas pelaksanaan program. Ada lima aspek utama yang kami periksa,” kata Herman.
Aspek pertama yang menjadi perhatian adalah infrastruktur dapur. Dalam pemeriksaan ini, tim BGN menilai kondisi fisik dapur secara menyeluruh, mulai dari atap, lantai, dinding, hingga kelayakan alat masak dan alat makan.
Baca Juga: MBG Selama Ramadan Dianggap Penting Agar Nutrisi Anak Tetap Terpenuhi
“Aspek pertama itu infrastruktur. Kami melihat bagaimana kondisi atap, lantai, dinding, serta peralatan masak dan makan yang digunakan,” ujarnya.
Aspek kedua yang diperiksa adalah sanitasi dan higienitas, termasuk pengelolaan air limbah serta pemisahan area kering dan area basah di dalam dapur.
“Sanitasi ini krusial, misalnya bagaimana air limbah dikelola dan apakah sudah ada pemisahan yang jelas antara area kering dan area basah,” jelas Herman.
Selanjutnya, BGN juga menilai aspek sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam operasional SPPG. SDM tersebut meliputi kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, serta puluhan relawan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program.
“Kami ingin memastikan seluruh pelaksana program memahami tugas dan menjalankan program dengan baik,” katanya.
Aspek keempat adalah manajemen dapur, termasuk komunikasi lintas sektor. Menurut Herman, koordinasi antara SPPG dengan sekolah, posyandu, orang tua penerima manfaat, hingga aparat setempat seperti kepolisian, koramil, dan babinsa menjadi bagian penting dalam keberhasilan program MBG.
Sementara aspek kelima adalah mutu gizi, yang disebut Herman sebagai kompetensi inti BGN.
“Kami memastikan setiap porsi makanan yang disajikan memenuhi standar gizi sesuai petunjuk teknis. Mutu gizi ini harus konsisten dan bisa diproduksi dengan standar yang sama,” tuturnya.
Adapun pemilihan SPPG yang disidak dilakukan secara acak. Namun, sidak juga bisa dilakukan berdasarkan permintaan atau laporan tertentu bila dibarengi adanya acara pimpinan BGN di wilayah tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan