Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tindakan tegas dengan menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Senin (19/1/2026).
Dalam operasi senyap tersebut, Bupati Pati, Sudewo (SDW), terkonfirmasi menjadi salah satu pihak yang diamankan oleh penyidik lembaga antirasuah.
Hingga berita ini diturunkan, orang nomor satu di Pati tersebut masih berada di Polres Kudus untuk menjalani pemeriksaan intensif. Meski kabar penangkapan telah terkonfirmasi, KPK belum merilis secara detail mengenai konstruksi perkara atau kasus spesifik yang melatarbelakangi penangkapan sang Bupati.
Jejak Kasus Proyek Kereta Api DJKA
Nama Sudewo sebenarnya bukan sosok asing bagi penyidik KPK. Sebelumnya, ia sempat terseret dalam pusaran kasus dugaan korupsi pembangunan jalur kereta api di bawah Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.
Dalam kapasitasnya sebagai mantan Anggota Komisi V DPR RI, Sudewo diduga menerima aliran dana terkait proyek infrastruktur tersebut.
Meskipun ia telah membantah keras keterlibatannya dan mengaku tidak pernah mengembalikan uang apa pun kepada negara, desakan masyarakat Pati agar KPK mengusut tuntas keterlibatannya terus mengalir, bahkan hingga dilakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Merah Putih Jakarta.
Kepemimpinan yang Diwarnai Gelombang Protes
Penangkapan oleh KPK ini seolah menjadi puncak dari rentetan polemik yang menyelimuti masa jabatan Sudewo. Selama tahun 2025, kepemimpinannya diwarnai oleh ketegangan hebat dengan warganya sendiri.
Baca Juga: Senyum Immanuel Ebenezer Saat Jalani Sidang Dakwaan di Pengadilan Tipikor
Berikut beberapa poin kontroversi yang sempat memicu kemarahan publik di Pati:
Kenaikan PBB-P2 Fantastis: Sudewo sempat menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250%.
Ia berdalih kebijakan ini diperlukan untuk menutupi beban gaji honorer dan PPPK senilai Rp200 miliar, sementara pendapatan pajak hanya Rp36 miliar.
Tantangan kepada Massa: Saat warga mengancam akan berdemonstrasi, Sudewo justru mengeluarkan pernyataan provokatif dengan menantang warga mengerahkan massa besar. Ia menyatakan tidak gentar meski harus menghadapi puluhan ribu demonstran.
Perubahan Hari Sekolah: Kebijakan mengubah sistem sekolah dari 6 hari menjadi 5 hari juga mendapat penolakan keras dari masyarakat setempat.
Lolos dari Upaya Pemakzulan
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Donald Trump Restui Arab Saudi Kembangkan Nuklir
-
Sinopsis 72 Hours, Film Komedi tentang Pesta Bujangan Berujung Kekacauan
-
Dorong Ekonomi Kerakyatan, Danantara Sambangi Nasabah Binaan PNM di Mojokerto
-
Tabel Lengkap Urutan Shio dari Tahun ke Tahun
-
DPR soal Rumor Pengganti Nanik S Deyang: Hak Prerogatif Presiden, Asalkan Jangan Memicu Konflik
-
Parfum Apa yang Aromanya Maskulin? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dari Brand Lokal
-
Muara Baru Paling Dalam, Muka Tanah Jakarta Terus Turun 3-4 Sentimeter Per Tahun
-
Ambisi Besar Changan Gempur Pasar Otomotif Indonesia Lewat Belasan Model Baru
-
Detik-detik Ledakan Gas Metana Terowongan Sikkim India, 12 Pekerja Proyek PLTA Tewas
-
Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review