- Lapak-lapak jasa reparasi sepatu dan pakaian di Jalan Dr. Sardjito, Yogyakarta, telah dibongkar untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki.
- Relokasi para penyedia jasa tersebut dipindahkan ke lokasi baru di Pasar Terban, meskipun tidak semua pedagang memilih untuk pindah ke sana.
- Para pedagang di lokasi baru Pasar Terban menghadapi kecemasan mengenai visibilitas pelanggan dan kesesuaian desain kios untuk usaha mereka.
Suara.com - Hiruk-pikuk Jalan Dr. Sardjito, Terban, Kota Yogyakarta kini terasa berbeda. Deretan lapak sederhana yang selama puluhan tahun menjadi "bengkel" andalan bagi sepatu jebol hingga celana jin mahasiswa UGM, kini tak lagi tampak.
Lapak-lapak legendaris itu sudah kosong tak menyisakan bangunan yang tinggal menunggu waktu untuk dibongkar.
Para penyedia jasa yang ada di sana sudah dipindah ke Pasar Terban. Tidak semua, beberapa pedagang memilih lokasi lain untuk membuka lapaknya kembali.
Relokasi para penyedia jasa ke Pasar Terban bukan hanya soal perpindahan fisik. Melainkan tentang memori kolektif yang kini harus menempati ruang baru.
Bagi para pelanggan setia, pembongkaran dan relokasi para penyedia jasa ini bukan sekadar penataan kota. Melainkan hilangnya kepingan memori masa perjuangan kuliah yang lekat dengan kesederhanaan.
Kenangan Sepatu Wisuda
Bagi Febrianto, alumnus Filsafat UGM, pembongkaran lapak-lapak tersebut memantik kembali ingatan masa perjuangannya saat wisuda pada 2016 lalu.
Febri sapaan akrabnya mengenang momen krusial ketika sepatu pantofel satu-satunya yang ia miliki mendadak jebol usai acara di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Padahal ia masih harus melanjutkan prosesi di fakultas.
Tanpa pikir panjang, ia meminjam motor teman menuju lapak-lapak di Sardjito itu yang memang dikenal sebagai satu-satunya rujukan mahasiswa kala itu.
Baca Juga: Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
"Sepatu pantofel satu-satunya, jebol, ya udah sempetin dulu buat benerin dulu ke situ karena emang deket kampus," kata Febri, pada Kamis (22/1/2026).
Keberadaan lapak di sana memang menjadi penyelamat para mahasiswa. Mengingat sulitnya mencari jasa serupa di area indekos yang didominasi usaha binatu.
Febri ingat betul bahwa bagi mahasiswa pada zamannya, area tersebut adalah tujuan utama untuk segala urusan perbaikan sandang.
"Iya, emang itu kalau bayangan anak-anak mahasiswa dulu ya kalau mau jahit celana, benerin sepatu ya di situ itu. Pasti ke situ gitu," tandasnya.
Antara Ketertiban dan Kenyamanan
Meski menyimpan banyak kenangan, keberadaan lapak di trotoar tak dipungkiri menimbulkan persoalan tata kota. Mengingat lapak-lapak itu berdiri di atas trotoar.
Berita Terkait
-
3 Pekan Menepi, Bek Asal Jepang Segera Kembali Perkuat PSIM Yogyakarta
-
Unggahan Terakhir Pramugari Florencia Lolita Sebelum Tragedi Tuai Sorotan Publik
-
Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
-
Misteri Hilangnya PK-THT di Langit Sulawesi: Bawa 10 Orang, GM Bandara Pastikan Ini
-
Suara.com Bersama LMC Gelar 'AI Tools Training for Journalists' di Yogyakarta
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Peringatan Dini BMKG: Jabodetabek Siaga Hujan Sangat Lebat dan Angin Kencang pada Jumat Besok
-
Terpilih Jadi Ketum Partai Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro
-
Bukan Virus Baru, Ini 7 Hal yang Perlu Diketahui tentang Super Flu di Indonesia
-
Kuasa Hukum Roy Suryo Cs: Pemeriksaan Tersangka Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi Pakai SOP Solo!
-
Pedagang Daging Jabodetabek Ancam Mogok Massal, Pramono Anung: Saya Yakin Tetap Berjualan
-
Usai Tetapkan Sudewo Jadi Tersangka Kasus DJKA, KPK Dalami Keterlibatan Anggota Komisi V DPR Lain
-
Polri Resmikan Direktorat PPA-PPO di 11 Polda dan 22 Polres, Arifah Singgung Ancaman Child Grooming
-
Misteri Penjemputan Kajari Sampang ke Jakarta: Kejagung Bantah OTT, Singgung Penyalahgunaan Wewenang
-
Truk Terbalik di Jalur Pantura Karawang, Lubang Jalan Picu Kemacetan Panjang
-
BW Semprot Wacana Pilkada Lewat DPRD: Biaya 37 T Mahal, Makan Gratis 268 T Dianggap Penting