- Badan Geologi ESDM memperingatkan potensi longsor susulan di Desa Pasirlangu, Bandung Barat, akibat curah hujan tinggi.
- Pemicu longsor meliputi curah hujan ekstrem, lereng curam, batuan vulkanik lapuk, dan aktivitas pemotongan lereng.
- Tim ahli menyisir 30 hektare area terdampak dan mengimbau warga segera mengungsi demi keselamatan jiwa.
Suara.com - Bencana tanah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, ternyata belum berakhir. Ancaman yang lebih mengerikan kini mengintai: potensi longsor susulan.
Badan Geologi Kementerian ESDM secara resmi mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat untuk waspada, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama kembali mengguyur.
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Tim ahli yang diterjunkan ke lokasi menemukan fakta-fakta krusial yang membuat kawasan perbukitan tersebut masih sangat rawan.
Warga yang tinggal di dekat area bencana diminta untuk tidak kembali ke rumah dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Mengurai Pemicu Utama, Bukan Sekadar Hujan
Banyak yang mengira hujan deras adalah satu-satunya penyebab. Namun, analisis mendalam dari Badan Geologi mengungkap kombinasi faktor mematikan di balik longsor Cisarua. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu utamanya.
"Faktor pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujarnya, dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Sederhananya, air hujan yang meresap membuat tanah menjadi jenuh, berat, dan kehilangan kekuatannya untuk menahan beban, hingga akhirnya ambrol. Namun, kondisi geologi di Desa Pasirlangu memperparah situasi ini.
Kondisi Geologi yang 'Rapuh'
Baca Juga: Longsor Cisarua Bandung Barat: 9 Tewas, 81 Warga Masih Dicari
Secara geologis, wilayah terdampak didominasi oleh batuan gunung api tua yang sudah lapuk. Batuan ini, seiring waktu, berubah menjadi tanah yang gembur dan tidak stabil. Ditambah lagi dengan tiga faktor lain yang membuat kawasan ini seperti bom waktu:
Kemiringan Lereng: Topografi yang curam secara alami sangat rentan terhadap longsor.
Struktur Geologi: Adanya rekahan dan sesar (patahan) di bawah permukaan tanah menjadi jalur air yang mempercepat pelapukan dan pelemahan struktur lereng.
Aktivitas Manusia: Pemotongan lereng untuk membangun permukiman dan jalan, serta sistem drainase yang buruk, ikut andil dalam mengganggu kestabilan alami lereng.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah ini masuk dalam kategori Menengah, di mana longsor sangat mungkin terjadi jika lerengnya terganggu.
"Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas," jelas Lana sebagaimana dilansir Antara.
Berita Terkait
-
Longsor Cisarua Bandung Barat: 9 Tewas, 81 Warga Masih Dicari
-
2 Polisi Gugur Terhimpit Truk Saat Bertugas Menuju Longsor Cisarua, Kapolri Beri Kenaikan Pangkat
-
Adu Cepat Lawan Maut: Basarnas Terjang 'Bubur Pasir' Cari Puluhan Korban Longsor Cisarua
-
"Saya Mohon Maaf," Ucapan Gibran di Tengah Duka Longsor Maut Bandung Barat
-
Menko PMK Pratikno Soal Longsor Bandung Barat: SAR 24 Jam Cari 83 Korban Hilang
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian