- Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menyoroti pelemahan rupiah di tengah penguatan pasar saham domestik.
- Rupiah menjadi satu-satunya mata uang ASEAN yang melemah terhadap dolar AS sementara otoritas akan menjaga level psikologis Rp17.000.
- Stabilitas nilai tukar memerlukan sinergi harmonis antaranggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk merespons tekanan global.
Suara.com - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di tengah penguatan pasar saham domestik.
Ia menilai kondisi tersebut bukanlah sebuah anomali, melainkan hal yang wajar karena pergerakan mata uang dipengaruhi banyak faktor di luar pasar ekuitas.
“Banyak orang mengatakan ini anomali, tapi menurut saya bukan. Pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi harga saham, ada banyak faktor lain,” ujar Harris.
yang disebutnya sebagai satu-satunya mata uang di kawasan Asia Tenggara yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat, ketika mata uang negara ASEAN lainnya justru menguat.
“Yang menarik, rupiah adalah satu-satunya mata uang di Asia Tenggara yang melemah terhadap US Dollar, saat mata uang kawasan lain justru menguat. Artinya ada faktor-faktor lain yang memengaruhi,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Harris juga menyinggung pernyataan Menteri Purbaya yang sebelumnya pernah menyebut pelemahan rupiah bisa diatasi dengan cepat.
“Lebih menarik lagi apa yang dikatakan Pak Purbaya. Katanya masalah pelemahan rupiah bisa diselesaikan dalam waktu semalam. Walaupun saya tidak tahu menyelesaikannya seperti apa,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan, Harris meyakini pemerintah dan otoritas moneter tidak akan tinggal diam melihat tekanan terhadap rupiah. Ia menilai level Rp17.000 per dolar AS menjadi batas psikologis yang akan dijaga ketat.
“Bank Indonesia pasti akan menjaga mati-matian di sini. Angka Rp17.000 itu angka psikologis,” ucapnya.
Baca Juga: Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
Menurut Harris, Bank Indonesia (BI) memiliki berbagai instrumen untuk menstabilkan nilai tukar, mulai dari intervensi di pasar spot hingga penggunaan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
“BI punya cukup banyak instrumen, baik di pasar spot maupun melalui NDF dan DNDF. Otoritas moneter pasti akan bekerja maksimal mempertahankan rupiah,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa intervensi yang terlalu agresif juga memiliki konsekuensi. Salah satunya adalah potensi eksportir menahan dolar hasil ekspor mereka.
“Kalau otoritas moneter terlalu keras menjaga rupiah, eksportir yang punya dolar bisa cenderung tidak menjual dolarnya. Akibatnya suplai dolar terbatas. Tapi saya rasa BI mampu mengatasi ini dengan baik,” tambah Harris.
Lebih lanjut, Harris menyoroti pentingnya sinergi antarotoritas dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan perekonomian nasional secara keseluruhan.
“Kuncinya adalah kerja sama yang benar-benar harmonis antaranggota KSSK, antara Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, OJK, dan LPS,” ujarnya.
Ia menegaskan, dengan koordinasi yang solid dan kebijakan yang selaras sesuai kewenangan masing-masing lembaga, stabilitas ekonomi Indonesia dapat tetap terjaga di tengah tekanan global.
“Selama mereka bekerja sama dengan baik, bersama-sama mengamankan perekonomian republik ini, saya optimistis kondisi bisa dikendalikan,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
Tiga Kunci Keberhasilan Para Judo Indonesia Sikat Semua Emas di ASEAN Para Games 2025
-
ASEAN Para Games 2025: Rebut Tujuh Emas, Jendi Pangabean Buktikan Konsistensi dan Dukungan Keluarga
-
PDIP Jabar Siapkan Relawan Kesehatan Desa, Hasto Kristiyanto: Kemanusiaan di Atas Politik Elektoral
-
Hasto Kristiyanto: Satyam Eva Jayate Adalah Benteng Moral PDIP Tegakkan Kebenaran
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular