- Pemerintah mencabut izin 28 perusahaan pascabencana di Sumatera dan Aceh, namun Auriga Nusantara menganggapnya hanya gimmick publik.
- Penelusuran Auriga menunjukkan banyak perusahaan yang izinnya dicabut tidak beroperasi di wilayah terdampak bencana baru-baru ini.
- Auriga telah berulang kali memberi peringatan dini tentang kerusakan lingkungan pemicu bencana jauh sebelum peristiwa terjadi.
Suara.com - Langkah pemerintah mencabut izin 28 perusahaan yang dianggap melanggar aturan pascabencana besar di Sumatera dan Aceh menuai kritik tajam. Direktur Penegakan Hukum Auriga Nusantara, Roni Saputra, menilai kebijakan tersebut terkesan hanya sebagai gimmick untuk meredam kemarahan publik.
Roni mengungkapkan hasil penelusuran Auriga Nusantara terhadap daftar 28 perusahaan yang izinnya dicabut. Hasilnya, banyak perusahaan tersebut justru tidak beroperasi di wilayah yang terdampak bencana longsor dan banjir baru-baru ini.
“Jadi waktu pas kita membaca beritanya, wih ini keren nih pemerintah, langsung kita salut ya. Kemudian kita coba cek satu-satu perusahaannya, ada yang tidak di daerah bencana," ungkap Roni dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Rabu (28/1/2026).
Ia mencontohkan, beberapa perusahaan yang dicabut izinnya berada di wilayah Sumba dan Riau yang tidak terdampak bencana dalam peristiwa tersebut. Kondisi ini memicu asumsi bahwa pemerintah hanya ingin terlihat progresif di mata masyarakat.
“Kemudian sebagian teman-teman berasumsi, ‘Oh, jangan-jangan ini gimmick dari pemerintah’, bahwa pemerintah sudah melakukan tindakan langkah yang progresif mencabut izin-izin perusahaan yang dikaitkan dengan bencana," tambahnya.
Roni juga menegaskan bahwa kerusakan lingkungan yang memicu bencana di Aceh dan Sumatera Utara bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Auriga Nusantara bersama aktivis lingkungan lainnya, kata dia, telah berulang kali memberikan peringatan dini kepada pemerintah jauh sebelum bencana melanda.
Salah satu kasus yang disoroti adalah ancaman terhadap ekosistem Batang Toru, habitat satwa langka Orangutan Tapanuli, yang terancam oleh aktivitas pertambangan emas, perkebunan sawit, hingga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
"Kita masih ingat meninggalnya Golfrid Siregar, aktivis WALHI di Sumatera Utara yang mengadvokasi Batang Toru. Itu sudah jauh-jauh hari diingatkan," tegas Roni.
Menurut Roni, apabila pemerintah mau mendengarkan masukan dari masyarakat sipil dan organisasi lingkungan sejak awal, dampak bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian materi di Sumatera dan Aceh seharusnya tidak separah saat ini.
Baca Juga: Mendes PDT: 29 Desa di Sumatra Hilang Akibat Banjir, Beberapa Berubah Jadi Sungai
Ia pun menyayangkan pola pemerintah yang baru bertindak tegas setelah bencana terjadi dan korban berjatuhan.
"Artinya gini, kalau serius pemerintah, kenapa pada setelah terjadi bencana? Ya kan mestinya dari awal-awal itu dilakukan oleh pemerintah. Setidak-tidaknya akan bisa mengurangi dampak dari bencana," pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Tag
Berita Terkait
-
Mendes PDT: 29 Desa di Sumatra Hilang Akibat Banjir, Beberapa Berubah Jadi Sungai
-
Waspada Angin Kencang, 51 Rumah Hingga Sekolah di Cilincing Sudah Porak-Poranda
-
Peran BUMN Tangani Bencana Diapresiasi
-
Bantah Tebang Pilih, Satgas Ungkap Proses di Balik Perintah Prabowo Sikat 28 Izin Perusahaan
-
Angin Kencang Terjang Kupang, 25 Rumah Warga Rusak dan Timbulkan Korban Luka
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Pilihan
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
-
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
-
IHSG Ambruk Hampir 8 Persen
-
IHSG Anjlok 6% Lebih, Rekor Terburuk di Era Menkeu Purbaya
Terkini
-
Isu Reshuffle Menguat, Sekjen Golkar: Kita Belum Dengar Info Yang Valid
-
Bukan Reshuffle Besar-besaran, Mensesneg Ungkap Alasan Prabowo Bakal Ganti Wamenkeu
-
Juda Agung Disebut Kandidat Kuat Wamenkeu, Istana Tegaskan Belum Ada Keputusan
-
Terjaring OTT KPK, Eks Kasi Intel Kejari HSU Asis Budianto Ajukan Praperadilan
-
Bela Istri yang Dijambret, Pengacara Sebut Hogi Minaya Kejar Pelaku untuk Selamatkan Tagihan Snack
-
Isu Reshuffle Memanas: Antara 'Anak Ideologis' dan 'Keponakan', Siapa yang Bertahan di Kabinet?
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
-
Istana Buka Suara soal Kans Budisatrio Djiwandono Gabung Kabinet
-
Isu Reshuffle Memanas, Istana Pastikan Sore Ini Fokus pada Pelantikan Dewan Energi Nasional
-
Dari Bansos Hingga Keuangan Digital, Mendagri Ungkap Peran Kunci Data Dukcapil