- Ketua Komisi II DPR, Rifqinizamy Karsayuda, menolak usulan PAN penghapusan ambang batas parlemen demi institusionalisasi partai sehat.
- Ambang batas parlemen diperlukan untuk memaksa partai membenahi struktur internal dan mencegah efektivitas pemerintahan terganggu akibat terlalu banyak partai.
- Partai NasDem justru mendorong kenaikan ambang batas parlemen menjadi 5-7% dan penerapannya di tingkat provinsi serta kabupaten/kota.
Suara.com - Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, memberikan respons tegas terkait adanya usulan dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang mendorong penghapusan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT).
Ia menegaskan bahwa keberadaan ambang batas parlemen merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan institusionalisasi partai politik yang sehat di Indonesia.
Menurutnya, partai politik yang kuat harus memiliki kelembagaan yang mapan, basis akar rumput yang jelas, serta ideologi yang kokoh. Keberadaan parliamentary threshold dinilai sebagai instrumen pemaksa agar partai politik terus membenahi struktur internalnya demi meraih simpati publik yang signifikan.
"Partai politik yang sehat itu adalah partai politik yang terinstitusionalisasi atau terlembaga. Dengan adanya parliamentary threshold, partai-partai politik dipaksa untuk membenahi dirinya agar mereka memperkuat strukturnya dan mendapatkan suara yang cukup signifikan di dalam setiap pemilu," ujar Rifqinizamy kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).
Selain soal kelembagaan partai, politisi NasDem ini menyoroti aspek efektivitas pemerintahan (government effectiveness).
Ia menilai jumlah partai yang terlalu banyak di parlemen berisiko mengganggu stabilitas pemerintahan dan menciptakan mekanisme checks and balances yang tidak sehat.
"Terlalu banyak partai itu juga akan menghadirkan checks and balances yang tidak terlalu sehat dan pada akhirnya pemerintahan berjalan kurang efektif," imbuhnya.
Meskipun ia mengakui adanya konsekuensi berupa suara pemilih yang terbuang karena tidak terkonversi menjadi kursi, Rifqinizamy menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses pendewasaan demokrasi keterwakilan.
Berseberangan dengan usulan penghapusan, Rifqinizamy mengungkapkan bahwa Partai NasDem justru mendorong kenaikan angka ambang batas parlemen dari yang berlaku saat ini sebesar 4 persen. Ia menyebut angka moderat di kisaran 5 hingga 7 persen sebagai target ideal.
Baca Juga: PAN Dukung Ambang Batas Parlemen Dihapus Hingga Usul Fraksi Dibatasi
Bahkan, ia mengusulkan agar sistem ambang batas ini tidak hanya diterapkan di tingkat nasional, tetapi juga diberlakukan pada pemilihan legislatif di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
"Dalam pandangan Partai NasDem, parliamentary threshold itu dibutuhkan, mutlak adanya. Bahkan kami mengusulkan di atas ambang batas parlemen yang ada sekarang, angka moderatnya mungkin di atas 5, 6, atau 7 persen. Dan itu bisa kita exercise-kan bukan hanya pada tingkat nasional, tapi juga pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota," tegasnya.
Langkah ini diharapkan dapat memicu penyederhanaan jumlah partai politik secara alamiah melalui sistem dan mekanisme pemilu yang ketat.
Lebih lanjut, Ketua Komisi II DPR ini menjelaskan bahwa besaran ambang batas parlemen akan menjadi salah satu poin krusial dalam Daftar Inventaris Masalah (DIM) pada pembahasan Revisi Undang-Undang (RUU) Pemilu mendatang.
Ia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang telah menyerahkan kewenangan penentuan besaran PT dan district magnitude kepada pembentuk undang-undang.
"Izinkan kami nanti mensimulasikan, meng-exercise-kan soal parliamentary threshold ini dalam pembahasan RUU Pemilu di Komisi II DPR RI," pungkasnya.
Berita Terkait
-
PAN Dukung Ambang Batas Parlemen Dihapus Hingga Usul Fraksi Dibatasi
-
Buka Rakernas Hari Ini, PSI Bakal Umumkan Kader-kader Baru, Salah Satunya Bekas Elit NasDem?
-
Rusdi Masse Mundur, NasDem Siapkan Pengganti Pimpinan Komisi III dan Tunjuk Ketua DPW Baru
-
Komisi II DPR Tetapkan 9 Anggota Ombudsman RI 2026-2031, Hery Susanto Jadi Ketua
-
Rusdi Masse Dikabarkan Mundur dari NasDem, Bakal Merapat ke PSI?
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis