News / Nasional
Rabu, 04 Februari 2026 | 18:46 WIB
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. (Suara.com/Dea)
Baca 10 detik
  • Siswa kelas IV SD berinisial YBS di NTT meninggal dunia karena tidak mampu dibelikan buku dan pena seharga kurang dari Rp10 ribu oleh ibunya.
  • Amnesty International Indonesia menilai peristiwa ini adalah kegagalan negara dalam melindungi hak dasar warga dari kemiskinan struktural.
  • Tragedi ini menjadi sorotan ironi kebijakan anggaran negara yang mengalokasikan dana besar untuk program lain sementara ada kebutuhan dasar terabaikan.

“Kemiskinan membuat orang merasa tersisih, direndahkan martabatnya dan tidak berdaya,” jelasnya.

Itu dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengambil bagian dalam kehidupan sipil, sosial, politik dan budaya di tengah masyarakat, termasuk menikmati hak atas pendidikan.

Amnesty International mendesak adanya evaluasi total terhadap program pemberantasan kemiskinan dan pendidikan gratis agar kasus serupa tidak terulang di masa depan.

“Negara tidak boleh hanya hadir dalam narasi besar anggaran triliunan untuk program-program lain, namun absen ketika seorang anak diduga sampai mengakhiri nyawa karena tidak memiliki buku dan pena,” ujarnya.

Peristiwa tragis ini bermula ketika YBS, murid kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, putus asa setelah ibunya, MGT, tidak dapat memenuhi permintaannya untuk membeli buku dan pena.

Berdasarkan hasil penyelidikan Polres Ngada, YBS bahkan sempat menulis sepucuk surat perpisahan dalam bahasa daerah Ngada, meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya dan tidak menangis.

Load More