- Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, mengkritik penonaktifan peserta PBI BPJS Kesehatan pada rapat di Senayan, Senin (9/2/2026).
- Rieke menyoroti ketidaksesuaian data peserta PBI yang mencapai 143,9 juta jiwa, mencerminkan lebih dari 50% penduduk Indonesia.
- Ia merekomendasikan pemerintah segera reaktivasi 120 ribu peserta nonaktif dan membenahi ekosistem data di tingkat desa.
Suara.com - Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyampaikan kritik keras terkait polemik penonaktifan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
Politisi PDIP yang akrab disapa Oneng ini menegaskan bahwa persoalan BPJS bukan sekadar masalah teknis statistik, melainkan persoalan keselamatan nyawa jutaan rakyat.
Hal tersebut disampaikan Rieke dalam Rapat Konsultasi Lintas Komisi bersama Pemerintah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Rieke menyoroti ketidaksinkronan data antara jumlah peserta PBI yang ditanggung APBN dan APBD.
Ia memaparkan bahwa jika total peserta PBI APBN (sekitar 96,5 juta) dijumlahkan dengan peserta yang masih dibebankan pada APBD (sekitar 47,3 juta), maka total penerima bantuan iuran mencapai 143,9 juta jiwa.
"Jika total peserta PBI saat ini 143,9 juta, artinya dengan jumlah penduduk sekitar 287 juta jiwa, maka 50,31 persen penduduk Indonesia masuk kategori miskin atau tidak mampu. Apakah ini data yang faktual?" tanya Rieke dalam rapat.
Ia mengingatkan pesan Presiden Prabowo Subianto saat pelantikan, agar kebijakan pemerintah tidak lagi berbasis pada data statistik yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Rieke sempat mengenang perjuangan emosional saat merumuskan UU SJSN dan UU BPJS pada tahun 2011 silam.
Ia menekankan bahwa jaminan kesehatan lahir dari prinsip kegotongroyongan dan nirlaba yang diperjuangkan dengan sangat sulit.
Baca Juga: Presiden Prabowo Mau Bangun Gedung MUI 40 Lantai, Pramono Singgung Status Cagar Budaya
"Undang-undang ini lahir tidak dengan mudah, Bapak-Ibu. Bertahun-tahun kami perjuangkan. Sasaran utamanya jelas: fakir miskin, masyarakat tidak mampu, dan kelompok rentan," tegasnya.
Menanggapi polemik penonaktifan 120 ribu peserta berkategori penyakit katastropik, Rieke memberikan dua rekomendasi tegas kepada pemerintah:
Reaktivasi Segera: Rieke mendesak pemerintah segera mengaktifkan kembali 120.472 peserta yang dinonaktifkan. Menurut hitungannya, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp15,179 miliar untuk tiga bulan.
"Ini bukan uang saya, bukan uang kita, ini uang rakyat. Pak Menkeu pasti setuju karena anggarannya sebenarnya sudah dialokasikan, tinggal diturunkan," ujarnya.
Pembenahan Ekosistem Data Desa: Rieke meminta pendataan dimulai dari tingkat desa dan kelurahan agar lebih akurat dan tepat sasaran.
Rieke juga mengapresiasi inisiasi DPR terkait RUU Satu Data Indonesia dalam Prolegnas Prioritas 2026.
"Ini bukan soal deretan angka atau PowerPoint. Keberhasilan kita adalah ketika anggaran itu tepat sasaran bagi rakyat. Kita percaya di balik angka dalam data negara, ada nasib dan nyawa jutaan rakyat yang dipertaruhkan," pungkas Rieke.
Berita Terkait
-
Rp 48,7 Triliun Dana PBI JKN Dipertanyakan, Mensos Akui Banyak Tak Tepat Sasaran
-
Sebut Ada 'Kejutan' di Balik Kisruh BPJS PBI, Menkeu: Jangan Coret 11 Juta Peserta Sekaligus
-
Dirut BPJS Kesehatan Buka-Bukaan Soal Peserta PBI Dinonaktifkan, 'Biang Kerok' Diungkap
-
Presiden Prabowo Mau Bangun Gedung MUI 40 Lantai, Pramono Singgung Status Cagar Budaya
-
Ujian Berat Prabowo: PKB dan PAN 'Tes Ombak' Tanpa Gibran, Siapkah Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT