- Dukungan PKB-PAN tanpa Gibran dinilai sebagai strategi tes ombak kesiapan Prabowo.
- Prabowo diprediksi lebih memilih berkoalisi dengan Megawati dibanding bayang-bayang politik Jokowi.
- Deklarasi dukungan dini bertujuan mengamankan posisi menteri partai dari ancaman reshuffle.
Suara.com - Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai dukungan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB dan Partai Amanat Nasional (PAN) kepada Prabowo Subianto untuk dua periode sebagai upaya 'cek ombak'. Pasalnya, dukungan tersebut tidak menyertakan nama Gibran Rakabuming Raka sebagai calon pendamping.
Zuly melihat situasi ini sengaja diciptakan untuk mengukur kesiapan dan arah politik Prabowo ke depan, termasuk menguji apakah sang presiden bersedia maju kembali tanpa didampingi putra sulung Joko Widodo tersebut.
"Ini sedang mengetes ombak. Bagaimana kira-kira kesiapan Pak Prabowo apabila mendapatkan dukungan dari partai lain di luar Gerindra, seperti PAN dan PKB," kata Zuly saat dihubungi, Senin (9/2/2026).
Menurut Zuly, manuver ini menempatkan Prabowo pada posisi dilematis. Dengan adanya dukungan dari minimal dua partai yang secara tersirat mengesampingkan Gibran, dinamika pemilihan calon wakil presiden menjadi isu krusial yang tengah dimainkan.
"Ini situasi awal, dan kita tahu politik bisa berubah setiap menit. Dukungan saat ini belum tentu bertahan besok, tergantung bagaimana kandidat yang diusung merespons," imbuhnya.
Sinyal Pisah Kongsi dengan Kekuatan Lama
Zuly membaca tidak disertakannya nama Gibran dalam paket dukungan sebagai indikasi potensi pecah kongsi antara Prabowo dengan Joko Widodo. Ia memprediksi Prabowo mulai memperhitungkan untuk melepaskan diri dari bayang-bayang pengaruh pendahulunya, mengingat kekuatan politik mantan presiden cenderung meredup seiring waktu.
"Ini jangan-jangan Prabowo akan melakukan say goodbye pada koneksi atau oligarki Jokowi. Jika itu terjadi, dinamika politik akan sangat ramai," ungkap Zuly.
Kalkulasi tersebut, menurut Zuly, dapat mendorong Prabowo untuk lebih memilih mendekat kepada kekuatan partai dengan basis parlemen kuat seperti PDI Perjuangan dibandingkan mempertahankan aliansi dengan loyalis Jokowi. Membangun poros bersama Megawati Soekarnoputri dinilai lebih masuk akal secara politik saat ini.
Baca Juga: Tembus 79,9 persen, Kenapa Kepuasan Kinerja Prabowo Lebih Tinggi dari Presiden Sebelumnya?
Motif Mengamankan Kursi Kabinet
Di luar strategi elektoral, Zuly menyoroti aspek pragmatisme di balik deklarasi dini ini. Ia menilai dukungan PKB dan PAN tak lepas dari upaya menjaga stabilitas posisi kader mereka di dalam kabinet saat ini agar aman dari ancaman perombakan (reshuffle).
"Bagaimanapun, kader mereka di kabinet sudah banyak. Agar tidak di-reshuffle, maka mereka memberikan dukungan sejak awal," paparnya.
Sifat dukungan ini dinilai Zuly sangat transaksional dan berjangka pendek, di mana partai politik cenderung menerapkan prinsip take and give secara instan tanpa mempertimbangkan visi politik jangka panjang.
"Teori politik yang mengatakan 'when you give, get value' benar-benar terjadi. Politik kita belakangan ini kurang mendukung iklim perpolitikan yang berkelanjutan (sustain)," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Toyota Mulai Data Calon Pemilik Land Cruiser FJ di Indonesia
-
PHK Makin Ganas, 43 Ribu Pekerja Terdampak
-
Kecelakaan atau Bunuh Diri? Polisi Usut Kematian Siswi SMA Tertabrak KRL di Jurangmangu
-
Divonis 2 Tahun Penjara, Abdul Wahid Belum Serahkan Memori Banding
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
Ojol Bakal Jadi UMKM, Maman Bantah Isu Pengemudi Bakal Kena Pajak
-
Wisata Religi di Tengah Jakarta, Menelusuri Jejak Integritas Guan Gong di Kelenteng Tian Fu Gong
-
Selamatkan Nasib PPPK, Mendagri Tito Guyur Rp18,9 Triliun Agar Tak Ada yang Nganggur
-
Pemerintah Mau Pungut Pajak Pemilik Rumah Kontrakan? Ini Kata DJP
-
Viral Kurir SPX Express Kembalikan Uang Rp92 Juta, Ini Sosok di Balik Itikad Jujurnya