- Fauzan Ohorella (FPIR) tegaskan Reformasi Budaya Polri fokus pembenahan pelayanan dan kesejahteraan anggota.
- Sejumlah purnawirawan TNI dikritik karena melontarkan narasi tendensius yang dianggap melemahkan stabilitas keamanan nasional.
- Habib Syakur menduga serangan terstruktur terhadap Kapolri ditunggangi kelompok eks simpatisan HTI bernuansa politik.
Suara.com - Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR), Fauzan Ohorella, menegaskan bahwa agenda Reformasi Budaya Polri tidak boleh dibajak oleh kepentingan politik tertentu yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Menurut Fauzan, reformasi Polri harus diarahkan pada pembenahan fundamental yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Reformasi Budaya Polri harus mengarah pada pembenahan sistem pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kesejahteraan anggota Polri, terkhusus Bhabinkamtibmas di pelosok. Mereka adalah ujung tombak pelayanan keamanan negara,” tegas Fauzan dalan SpeakUp Kamtibas (14/10/2026)
Ia menilai, penguatan kapasitas dan kesejahteraan anggota di lapangan jauh lebih penting dibanding narasi politis yang menyerang personal pimpinan institusi.
Fauzan juga melontarkan kritik terhadap sejumlah purnawirawan TNI yang dinilai kerap membangun narasi tendensius terhadap Polri.
“Bahwa purnawirawan seperti Gatot Nurmantyo dan Soenarko, serta lainnya, sangat naif. Kita bisa bayangkan, kalau mereka kehilangan kendaraan atau sesuatu, pasti lapor ke Polsek, bukan ke Said Didu atau Abraham Samad,” sindir Fauzan.
Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang menyerang Polri secara umum justru kontraproduktif dan berpotensi melemahkan stabilitas keamanan nasional.
Sementara itu, Habib Syakur Ali Mahdi menyebut ada pola serangan yang terstruktur terhadap Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Dia bilang, pola tersebut memiliki kemiripan dengan serangan yang sebelumnya diarahkan kepada Presiden RI ke-7, Joko Widodo.
Baca Juga: Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima, DPR Minta Polri Beri Sanksi Berat Tanpa Kompromi
Habib Syakur menduga, isu reformasi Polri ditunggangi oleh kelompok eks simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menurutnya masih menyimpan kekecewaan dan dendam politik terhadap pemerintah dan institusi Polri.
“Serangan verbal terhadap Jenderal Listyo sangat seragam dengan pola menyerang Presiden Joko Widodo. Ini bukan kritik konstruktif, tetapi framing yang sistematis,” kata Syakur.
FPIR menegaskan bahwa kritik terhadap institusi negara tetap merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara objektif dan konstruktif, bukan dengan narasi yang mengarah pada delegitimasi institusi.
Fauzan pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga stabilitas nasional dan mendukung Reformasi Budaya Polri yang berorientasi pada pelayanan publik, profesionalisme, dan penguatan integritas internal.
"Kami percaya, jika publik tidak mudah lagi terprovokasi, tetapi narasi seperti menyerang individu secara verbal seperti Gatot Nurmantyo dan Soenarko, bisa dikatakan sebagai krisis moral dan etika," ujar Fauzan.
Berita Terkait
-
Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima, DPR Minta Polri Beri Sanksi Berat Tanpa Kompromi
-
Dari Koper Putih ke Tes Rambut Positif, Jerat Narkoba Eks Kapolres Bima Kian Terang!
-
Sekjen KAKI: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Harus Nasehati Gatot Nurmantyo Dkk
-
Tersangka Narkoba, Eks Kapolres Bima AKBP Didik Terancam Pidana Seumur Hidup
-
Habiburokhman: Waspada Penumpang Gelap Reformasi Polri, Ada Agenda Dendam Politik
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra
-
Misteri Kematian WNA Korea di Bekasi: Ada Luka Benda Tajam dan Tumpul di Tubuh Korban
-
Keracunan atau Apa? 8 Fakta Tewasnya Sekeluarga di Tenda Kamping Temanggung
-
PDIP Remehkan Safari Politik Jokowi: Jadi Presiden Saja Tak Bisa Loloskan PSI, Apalagi Sekarang
-
PBB Dikabarkan Masukkan Israel ke Daftar Hitam Kekerasan Seksual di Zona Konflik