- Peziarah di TPU Kawi-Kawi mengeluhkan pembersih makam musiman yang memaksa meminta uang menjelang Ramadan.
- Seorang peziarah dipaksa membayar puluhan ribu rupiah setelah sekelompok orang membersihkan tanpa izin.
- Peziarah menyoroti abainya petugas keamanan yang membiarkan praktik pemaksaan jasa kebersihan tersebut terjadi.
Suara.com - Sejumlah peziarah yang mendatangi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kawi-Kawi, Johar Baru, Jakarta Pusat, mengeluhkan maraknya pembersih makam musiman yang dinilai sangat meresahkan.
Kehadiran para penyedia jasa dadakan tersebut terpantau mulai membanjiri area pemakaman seiring dengan meningkatnya volume peziarah menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Para pembersih makam liar ini biasanya langsung membuntuti peziarah sejak pertama kali mereka melangkahkan kaki di pintu gerbang TPU.
Rahmat (28), salah satu peziarah, mengaku sempat merasa terintimidasi karena dihampiri oleh sekitar 10 orang sekaligus saat baru tiba di lokasi pada Selasa (17/2/2026).
Kelompok tersebut terus mengikuti langkah Rahmat hingga mencapai pusara anggota keluarganya, lalu seketika mulai menyapu dan mencabuti rumput di sana.
Tanpa adanya instruksi atau izin dari pihak keluarga, para oknum ini bahkan nekat menyiramkan air mawar ke atas makam tersebut.
Setelah melakukan aksinya, mereka langsung menodongkan permintaan upah serta biaya air mawar secara paksa kepada Rahmat.
Lantaran enggan memicu keributan di area pemakaman, Rahmat akhirnya terpaksa merogoh kocek hingga puluhan ribu rupiah untuk diberikan kepada mereka.
"Mereka maksa minta duit kepada kami jadi dengan terpaksa kami kasih," kata Rahmat di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Baca Juga: 9 TPU di Jakarta Selatan Penuh, Sistem Makam Tumpang Jadi Solusi Utama
Atas kejadian tidak menyenangkan tersebut, Rahmat mendesak pihak pengelola untuk segera mengambil langkah tegas dalam menertibkan para pembersih makam musiman itu.
"Saya minta untuk menertibkan pembersih makam liar ini. Kami sangat tidak nyaman dengan mereka," pinta warga Johar Baru tersebut.
Keresahan serupa juga dialami oleh Putri (35), seorang warga Kemayoran yang sedang melakukan ziarah ke makam kerabatnya di TPU Kawi-Kawi.
Putri menyoroti kinerja petugas keamanan setempat yang dinilai abai dan membiarkan praktik pemaksaan tersebut terjadi di depan mata.
"Saya lihat, petugas keamanan hanya duduk-duduk saja, ngerokok, ngopi dan tidak pernah saya liat mereka patroli. Kalau begitu apa fungsinya mereka dipekerjakan menjadi petugas keamanan?," keluhnya.
Peziarah pun berharap adanya patroli rutin agar prosesi doa di makam kelak tidak lagi terganggu oleh tindakan premanisme berkedok jasa kebersihan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi