- Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta didirikan tahun 2008 sebagai ruang aman bagi transpuan untuk beribadah.
- Pondok ini pernah menghadapi penutupan paksa pada 2016 dan kini berlokasi di Jetis sejak Oktober 2023.
- Bagi anggota, Ramadan adalah jeda spiritual untuk mengistirahatkan batin dari stigma dan penghakiman sosial.
Suara.com - Bagi sebagian besar orang, Ramadan identik dengan riuh meja makan, tawa keluarga, dan hangatnya kebersamaan. Namun, bagi para transpuan di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta, bulan suci memiliki makna yang jauh lebih sunyi, dan lebih dalam.
Ramadan adalah jeda, waktu untuk mencuci debu jalanan yang menempel di jiwa.
Di sebuah kontrakan sederhana yang terselip di permukiman padat Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, Mbak YS, sang ketua pondok, menatap sisa-sisa hari dengan tenang. Baginya, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan kesempatan untuk mengistirahatkan batin dari penghakiman dunia.
Lahir dari Debu dan Air Mata
Sejarah Ponpes Waria Al-Fatah tidak lahir dari ruang megah atau catatan resmi yang rapi. Ia tumbuh dari puing-puing gempa dahsyat Yogyakarta tahun 2006.
Saat tanah berhenti berguncang dan debu perlahan luruh, kesadaran muncul: doa tidak mengenal kasta sosial maupun identitas gender.
Gagasan itu diwujudkan oleh almarhumah Ibu Maryani, ketika melihat kesedihan serupa di mata para transpuan: kerinduan untuk mendoakan kawan dan tanah kelahiran yang luluh lantak. Dari doa bersama yang awalnya sederhana, tumbuh harapan akan ruang belajar yang lebih intim dan menetap. Bukan sekadar tempat mengaji, tetapi juga ruang aman.
"Melihat keseriusan teman-teman transpuan untuk datang pengajian terus muncul, ini kalau kegiatannya tidak sekadar mendengarkan kajian tapi bisa belajar lebih ya, secara kuantitas juga lah ya, secara kuantitas itu durasi untuk belajar bisa lebih, maka di 2008 didirikan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah," kata Mbak YS ditemui Suara.com, Kamis (19/2/2026).
Perjalanan pondok tak pernah mulus. Kegiatan sempat berpindah dari Notoyudan ke Kotagede, diiringi berbagai tantangan yang tak kunjung benar-benar pergi.
Baca Juga: Tradisi Megengan Kediri: Kenduri Jawa Menyambut Bulan Ramadan
Tahun 2016 menjadi masa paling kelam, ketika sebuah organisasi masyarakat mencoba menutup paksa kegiatan pondok. Trauma itu membekas. Psikis anggota terguncang, motivasi beribadah ikut goyah. Saat itu, YS bersama almarhumah Ibu Shinta harus bolak-balik mengurus ke kepolisian dan meminta pendampingan hukum.
Duka kembali datang ketika Ibu Shinta, Ketua Ponpes sebelumnya, meninggal dunia pada 2023. Namun YS memegang keyakinan sederhana: tak seorang pun berhak melarang orang lain untuk bersujud.
"Aku sendiri meyakini bahwa orang lain nggak boleh untuk menghentikan atau melarang seseorang untuk beribadah ya," ujarnya.
Sejak Oktober 2023, ponpes berlabuh di lokasi baru di Jetis, Kota Yogyakarta. Di lingkungan yang sebelumnya tidak ada transpuan, mereka harus memulai semuanya dari nol, membangun penerimaan, pelan-pelan, lewat pendekatan kultural dan interaksi sehari-hari.
Ruang Aman di Tengah Penghakiman
Bagi YS dan para santri, hidup sebagai minoritas berarti akrab dengan stereotip. Namun alih-alih memilih konfrontasi, mereka membangun ruang yang justru menenangkan: ruang aman untuk beribadah tanpa rasa cemas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
-
Sebut Indikasi Kecelakaan Kalideres Murni Musibah, Kadispenad Pastikan Pemeriksaan Tetap Dilakukan
-
Update Gempa M 7,6: Nyaris Seribu Gempa Susulan Guncang Maluku Utara
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
AS-Israel Gempur Wilayah Iran: 15 Orang Tewas, Pasukan IRGC Gugur dan Pilot F-15E Dicari
-
Spesifikasi Pesawat A-10 Thunderbolt II 'Warthog' Milik AS, Hancur Ditembak Iran
-
Gembira Dihampiri Kasatgas PRR, Asa Penyintas di Desa Sekumur Kembali Menyala
-
Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi di Pelalawan dan Inhil, Hak Rakyat Kecil Terselamatkan
-
Di momen Ramadhan, Jusuf Kalla mengadakan sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak
-
Siasat Cegah Defisit, JK Sarankan Pemerintah Evaluasi Anggaran dan Kurangi Subsidi