Ribuan Pelayat Ayatollah Khamenei Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59 WIB
Lautan Massa di Teheran Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei [Tangkap layar X]
BACA 10 DETIK
  • Ribuan pelayat menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi Ayatollah Khamenei di Grand Musalla, Teheran pada 4–5 Juni.
  • Ayatollah Khamenei tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.
  • Massa mengibarkan bendera merah sebagai simbol tuntutan keadilan serta seruan balas dendam atas kematian sang pemimpin.

Suara.com - Ribuan pelayat memadati Grand Musalla, Teheran, Iran dalam upacara penghormatan terakhir bagi Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Khamenei.

Dilansir dari Tasnim News, suasana duka bercampur kemarahan, dengan massa mengibarkan bendera merah dan menyerukan balas dendam atas kematiannya.

Kerumunan yang hadir pada 4–5 Juni itu membawa bendera bertuliskan “Ya Litharat al-Hussein”, simbol kuat dalam tradisi Syiah yang melambangkan darah yang tertumpah dan belum terbalaskan.

Seruan “Balas! Balas!” menggema di tengah prosesi yang berlangsung khidmat.

Selain bendera merah, para pelayat juga membawa bendera Iran, potret Ayatollah Khamenei, serta gambar Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei.

Mojtaba Khamenei (Tasnim News Agency)

Simbol kepalan tangan turut terlihat, menandakan tekad dan sumpah setia terhadap perjuangan yang ditinggalkan.

Sepanjang hari, massa terus berdatangan ke lokasi.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan elegi duka memenuhi ruang ibadah, menciptakan atmosfer emosional yang kental dengan kesedihan sekaligus tekad.

Ayatollah Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.

Peristiwa tersebut terjadi di awal konflik selama 40 hari yang melibatkan Republik Islam Iran.

Kematian tokoh penting tersebut memicu kecaman luas dan gelombang duka di Iran serta kelompok yang tergabung dalam poros perlawanan.

Bendera merah yang dikibarkan dalam prosesi ini dipandang sebagai simbol bahwa tuntutan keadilan dan pembalasan masih terus hidup.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com