- Ponpes Tunarungu Darul Ashom di Sleman, DIY, didirikan karena keresahan kurangnya pendidikan agama bagi santri tuli.
- Santri seperti Ahmad belajar Al Quran menggunakan metode isyarat visual yang baku, mengikuti standar pengajaran dari Arab Saudi.
- Pesantren ini bertujuan mempersiapkan santri tidak hanya mandiri secara keterampilan, tetapi juga menjadi pengajar agama bagi komunitas tuli.
Ketulusan Kasih Sang Pengajar
Di balik ketekunan Ahmad dan ratusan santri lainnya, ada sosok-sosok yang memilih belajar dari keheningan. Salah satunya Ustaz Muhammad Aldi.
Pria asal Tasikmalaya itu telah tiga tahun membersamai para santri tuli di Ponpes Darul Ashom.
Ketertarikannya lahir dari perjumpaan sederhana, saat ia menyelesaikan masa mondok dan melihat anak-anak tuli yang tetap bersemangat belajar agama serta menghafal Al Quran.
Semangat merekalah yang mengetuk hatinya.
“Mereka begitu mulia dengan keterbatasan mereka, semangat ingin belajar agama, semangat ingin menghafal Al Quran,” ungkap Aldi.
Ia menyadari bahwa mengajar Al Quran dengan bahasa isyarat merupakan hal baru baginya. Namun seiring waktu, ia memahami bahwa pengajaran harus menyesuaikan karakter setiap anak yang berbeda.
Menurutnya, bahasa isyarat akan lebih mudah melekat jika pengajar mau berbaur.
Bahkan, ia mempelajari bahasa isyarat secara otodidak selama satu tahun agar bisa benar-benar memahami kehidupan para santri.
Baca Juga: Ramadan Tetap Maksimal, PSIM Yogyakarta Sesuaikan Jadwal Latihan
Lebih dari sekadar metode, ia belajar menyelami dunia visual para santri—dunia yang tak bergantung pada bunyi, melainkan gerak dan rasa.
Baginya, kunci utama bukan sekadar teknik mengajar, tetapi ketulusan hati yang menyambungkan guru dan murid.
“Ketika sudah sambung hati, maka akan mudah untuk menyampaikan agama,” ujarnya.
Aldi mengakui, latar belakang keluarga dan pendidikan awal para santri sangat beragam. Tantangan terbesarnya justru memahami perbedaan tersebut, lalu menemukan cara agar ilmu benar-benar sampai.
“Mereka ini ibarat benar-benar gelas kosong. Jadi ketika kita sampaikan satu hadis, satu ilmu, mereka tangkap, mereka pahami, mereka amalkan,” ucapnya.
“Itulah yang membuat saya lebih kuat lagi, lebih sungguh-sungguh lagi untuk membersamai mereka,” imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
-
Piala AFF 2026: Kalahkan Malaysia, Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal
Terkini
-
TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan
-
Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas
-
Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta
-
Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun
-
Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban
-
Ini Daftar Program Pemerintah yang Buat Pemudik Merasa Terbantu Menurut Survei Indikator
-
Survei Indikator: Mayoritas Pemudik Nilai Lalu Lintas Lancar dan Kecelakaan Menurun
-
Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran
-
Polri Usul Ambang Batas Kepemilikan Narkoba Diperkecil, Biar Jelas Bedakan Pengguna dan Bandar
-
DPR Ingatkan Kenaikan Tiket Pesawat Hanya Langkah Darurat, Bukan Kebijakan Permanen