- Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti menyatakan perundungan di sekolah terjadi akibat relasi kuasa antara pihak kuat dan lemah.
- Kelompok rentan perundungan meliputi murid perempuan, siswa berkebutuhan khusus, anak ekonomi lemah, serta siswa berprestasi akademik rendah.
- Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang mengedepankan pendekatan humanis untuk menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman.
Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengungkap akar persoalan perundungan di sekolah yang menurutnya tak lepas dari relasi kuasa di lingkungan pendidikan.
Ia menyebut murid perempuan, anak dari keluarga ekonomi lemah, hingga siswa dengan capaian akademik rendah menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban bullying.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat membuka seminar bertema “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman: Pembentukan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Save the Children Indonesia, Senin (25/5/2026).
Menurut Mu’ti, sekolah saat ini masih belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi anak. Ia menilai praktik perundungan terus berkembang dengan bentuk dan pelaku yang semakin beragam.
“Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga semakin beragam,” kata Mu’ti.
Ia menjelaskan, bullying pada dasarnya muncul dari relasi kekuasaan antara pihak yang kuat terhadap yang lemah.
“Kalau kita bicara mengenai perundungan itu memang relasinya selalu relasi power, the powerful kepada the powerless,” ujarnya.
Mu’ti kemudian membeberkan kelompok murid yang paling sering menjadi sasaran perundungan di sekolah.
“Yang seringkali menjadi sasaran dari perundungan itu yang pertama adalah memang mereka yang physically itu mereka lemah, bisa jadi karena memang mereka anak-anak berkebutuhan khusus,” tuturnya.
Baca Juga: Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA 21 Surabaya Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying
Selain itu, ia menyebut murid perempuan juga lebih rentan mengalami bullying.
“Sebagian besar yang menjadi sasaran perundungan itu anak-anak perempuan,” katanya.
Tak hanya itu, faktor ekonomi dan prestasi akademik juga disebut menjadi pemicu munculnya perundungan di sekolah.
“Yang ketiga itu mereka yang secara ekonomi itu di bawah, karena mungkin dari pakaiannya kelihatan, dari penampilan fisiknya juga kelihatan,” ucap Mu’ti.
“Dan yang keempat itu mereka yang secara akademik itu capaiannya juga rendah. Mereka yang capaian akademiknya rendah seringkali menjadi sasaran dari perundungan,” sambungnya.
Mu’ti menilai sistem pendidikan juga kerap tanpa sadar ikut melanggengkan praktik bullying, salah satunya melalui budaya membanding-bandingkan murid berdasarkan nilai akademik.
Berita Terkait
-
Curhat Menteri Pendidikan Saat Nobar Children of Heaven: Pakai Sepatu Seminggu Sekali
-
Pernah Jadi Korban Bullying, Rapper Dindin Beberkan Kisah Pilu saat SMA
-
Fatma Saifullah Yusuf Ajak Siswa SRMA 21 Surabaya Ciptakan Lingkungan Bebas Bullying
-
DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati di SRMA 13 Bekasi
-
DBL Resmi Luncurkan Super Teacher, Benahi Manajemen Talenta Basket Pelajar
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
Terkini
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp1,45 Miliar
-
Sekjen ASEAN Serukan Indo-Pasifik yang Terbuka dan Inklusif di Tengah Memanasnya Geopolitik
-
Kejari Jakbar Sita Uang Rp5,19 Miliar dari Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Srengseng
-
Bahlil Lahadalia Siap Buka Data untuk Penyidikan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU
-
BEM SI Dukung Pengusutan Dugaan Korupsi oleh Kortastipidkor Polri, Minta Tak Ada Intervensi
-
Kejagung Tepis Isu TNI Jaga Jampidsus Febrie Adriansyah Karena Ditarget Polri
-
TNI Jaga Rumah Jampidsus Febrie Ancam Supremasi Sipil dan Independensi Hukum
-
Kejagung Tegaskan Surat Edaran Jamintel soal Kewaspadaan Tak Terkait Penggeledahan Polri
-
Bukan Balas Dendam dan Politik! Polri Harus Profesional Usut Kasus Korupsi yang Seret Jampidsus