News / Metropolitan
Jum'at, 20 Februari 2026 | 20:34 WIB
Ribuan jemaah padati pelataran Masjid Istiqlal [suara.com/Dinda]
Baca 10 detik
  • Masjid Istiqlal dipadati jemaah pada hari kedua Ramadan untuk berbuka puasa bersama, meskipun cuaca Jakarta mendung.
  • Relawan biru memastikan kelancaran distribusi makanan, membantu jemaah, dan menjaga kebersihan area masjid secara sigap.
  • Jemaah, seperti Ami dan Junaidatul, merasa terbantu dan merasakan suasana kebersamaan yang berbeda saat berbuka di Istiqlal.

Suara.com - Hari kedua Ramadan di Masjid Istiqlal kembali dipadati jemaah yang menanti waktu berbuka puasa. Sejak sore, suasana di masjid terbesar di Asia Tenggara itu tampak semakin hidup. 

Langit Jakarta yang mendung tak menyurutkan langkah warga dari berbagai penjuru ibu kota untuk datang dan berbuka bersama.

Di hamparan pelataran yang luas, relawan berompi biru dengan logo sponsor terlihat menyebar ke sejumlah titik. 

Mereka tak sekadar membagikan konsumsi, tetapi juga mengarahkan jemaah ke lokasi duduk, membantu lansia, hingga memastikan kebersihan area tetap terjaga setelah makanan didistribusikan.

Sementara itu, selasar dan area dalam masjid mulai dipenuhi jemaah. Sebagian berbincang ringan sembari menunggu azan Magrib, sebagian lainnya larut dalam bacaan Al-Qur’an. 

Anak-anak berlarian kecil di pelataran dalam pengawasan orang tua, menghadirkan suasana hangat yang sarat kebersamaan.
Menjelang pukul enam sore, paket buka puasa telah dibagikan merata kepada para jemaah yang memenuhi selasar dan pelataran. 

Kotak-kotak makanan tersusun rapi di hadapan mereka, sebagian sudah dibuka, sebagian lagi masih tertutup menanti waktu berbuka.

Sambil menunggu, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari pengeras suara masjid, mengalun lembut menyelimuti area yang sebelumnya riuh percakapan. Suasana perlahan menjadi lebih khusyuk.

Tak lama kemudian, suara adzan maghrib  berkumandang, menandakan tibanya waktu berbuka puasa. Serentak, ribuan jemaah membatalkan puasa dengan tegukan air dan kurma di tangan.

Baca Juga: Di Balik Ramainya Istiqlal: Kisah Petugas yang Berpuasa Sambil Bertugas 12 Jam

Salah satu jemaah, Ami, yang bekerja di Atrium Senen dan tinggal di Ciganjur, mengaku rutin berbuka puasa di Istiqlal karena jaraknya lebih dekat dari tempat kerjanya.

“Kalau kali ini lebih rame lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Terus jarak dari kantor ke sini deket, jadi sekalian Taraweh sama buka puasa di sini. Lebih cepet gitu. Kalau di rumah nggak keburu, kadang ya ngepas banget sih, jadi ya cepet di sini dah dari dulu,” ujarnya, saat ditemua di selasar Masjid Istiqlal pada Jumat (20/2/2026).

Ami mengatakan, dari kantor ia hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di Istiqlal.

“Kalau dari kantor cuma setengah jam kurang, cuma 20 menitan lah dari kantor,” katanya. 

Ia biasa berangkat sekitar pukul setengah lima sore dan tiba menjelang pukul lima. Menurutnya juga, suasana buka puasa bersama di Istiqlal memiliki nuansa berbeda dibandingkan berbuka di tempat lain.

“Kayaknya berkah gitu. Banyak temen, banyak kenalan, jadi beda gitu sama apa sih, pokoknya bedalah suasananya gitu. Hikmat bener, barokah banget,” tuturnya.

Ia juga menilai penyelenggaraan buka puasa di Istiqlal berjalan baik. 

“Bagus, biar berkah. Orangnya ramah-ramah, petugas ramah-ramah, sigap. Ada nasinya, boks buat makan juga ada terus, gak pernah kekurangan. Enak,” ujarnya.

Sementara itu, Junaidatul Munawaroh, jemaah asal Semarang yang tengah menginap di Bekasi, mengaku baru pertama kali mencoba berbuka puasa di Istiqlal. 

“Karena iseng doang sih Kak, pengen aja. He-eh, first time. Pengen nyoba hal baru aja,” katanya, dikutip pada Jumat (20/2/2026).

Ia bahkan tidak mengetahui sebelumnya bahwa tersedia agenda buka puasa gratis di masjid tersebut.

“Malah nggak tau. Nggak tau ada buka puasa di sini. Baru datang terus lihat oh ada, ya udah duduk gitu. Baru tahu, baru tahu banget,” ujarnya.

Meski datang sendirian, ia merasa terbantu dengan adanya fasilitas berbuka yang disediakan. 

“Terbantu banget. Karena udah disediakan kan, nggak perlu beli lagi, gratis lagi,” katanya

Selain berbuka, Junaidatul juga berencana menunaikan shalat tarawih di Istiqlal sebelum kembali ke daerah asalnya keesokan hari. 

“Tarawih, sekalian Tarawih,” pungkasnya.

Buka puasa hari kedua ini kembali menunjukkan bahwa Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang pertemuan lintas daerah dan latar belakang, tempat masyarakat berbagi hidangan, pengalaman, dan harapan dalam suasana yang khidmat di bulan suci Ramadhan.


Reporter: Dinda Pramesti K

Load More