- Solidaritas Pemuda dan Pelajar ber-Gerak (SPPG) demonstrasi di Jakarta pada 27 Februari 2026 menuntut usut tuntas teror Ketua BEM UGM.
- Aksi ini juga menyoroti kegagalan negara dalam hak dasar pendidikan pasca tragedi siswa NTT dan kritik BEM UGM.
- Massa menolak Program MBG, impor pick-up Kopdes, dan keanggotaan Indonesia pada Board of Peace senilai Rp17 triliun.
Mereka menegaskan bahwa tugas pokok dan fungsi Polri adalah sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), penegak hukum, serta pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
“Polri harus tetap fokus pada pemberantasan kejahatan, menjaga keamanan publik, dan menegakkan hukum. Jangan sampai energi dan sumber daya aparat justru tersedot ke urusan operasional logistik gizi,” tegas salah satu orator.
Menurut massa, potensi pergeseran fokus tersebut dikhawatirkan berdampak pada optimalisasi kinerja kepolisian dalam menangani persoalan kriminalitas di berbagai daerah.
Mereka menilai, apabila aparat terlalu jauh terlibat dalam distribusi maupun pengawasan teknis program yang bersifat administratif-logistik, maka perhatian terhadap isu-isu strategis seperti kejahatan jalanan, narkotika, perdagangan orang, hingga kejahatan siber bisa terabaikan.
“Negara memiliki banyak institusi teknis yang bisa mengelola program pangan dan gizi. Kepolisian seharusnya berdiri tegak sebagai penjaga hukum, bukan menjadi operator logistik,” ujar massa dalam orasi.
SPPG menegaskan bahwa kritik terhadap MBG bukan semata soal substansi program, melainkan juga tata kelola dan pembagian peran antar lembaga negara agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Tolak Program MBG dan Impor 105.000 Pick-Up Kopdes
Selain isu teror, massa juga menolak Program MBG yang dinilai bermasalah dan tidak manusiawi. Mereka menilai program tersebut tidak menyentuh akar persoalan kesejahteraan rakyat dan justru menyisakan polemik di berbagai daerah.
Tak hanya itu, rencana impor 105.000 unit kendaraan pick-up untuk program Koperasi Desa Merah Putih juga menuai penolakan.
Baca Juga: Demo Mahasiswa Jadi Berkah Ramadan, Pedagang Starling Raup Cuan 3 Kali Lipat
Massa menilai kebijakan tersebut berpotensi melukai industri otomotif nasional dan memperburuk kondisi ketenagakerjaan di tengah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut mereka, alasan harga produksi mobil lokal yang dianggap lebih mahal seharusnya dapat diselesaikan melalui negosiasi teknis dengan produsen dalam negeri.
“Di saat ribuan buruh menghadapi ketidakpastian kerja, negara justru membuka pintu bagi produk luar,” kritik massa dalam naskah orasi.
Sejumlah warga di berbagai wilayah juga dilaporkan menyuarakan penolakan terhadap pembangunan Kopdes Merah Putih, dengan alasan keberadaannya dikhawatirkan mematikan ritel kecil yang sudah lebih dulu berdiri.
Tolak Indonesia Gabung Board of Peace
Isu lain yang diangkat adalah penolakan terhadap rencana Indonesia menjadi anggota permanen Board of Peace (BoP) dengan iuran sebesar Rp17 triliun.
Berdasarkan hasil survei lembaga Median, sebanyak 73,3 persen responden tidak setuju Indonesia membayar iuran sekitar 1 miliar dolar AS untuk keanggotaan tersebut.
Selain nominal yang dinilai besar, sebanyak 50,4 persen responden juga menyatakan tidak setuju Indonesia bergabung dalam forum tersebut.
Massa aksi menilai dana sebesar Rp17 triliun lebih mendesak dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat.
Aksi di Dua Titik
Aksi di Mabes Polri difokuskan pada tuntutan penegakan hukum atas dugaan teror terhadap Tiyo Ardianto. Sementara di Patung Kuda, massa menyampaikan kritik terhadap kebijakan MBG, impor kendaraan Kopdes, serta rencana keanggotaan BoP.
SPPG menegaskan bahwa aksi ini berlangsung secara damai dan mengajak seluruh elemen mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil untuk bersatu menyuarakan aspirasi.
“Bersatu, bergerak, dan bersuara. Karena ketika rakyat diam, ketidakadilan tumbuh dalam senyap,” tutup pernyataan mereka.
Berita Terkait
-
Demo Mahasiswa Jadi Berkah Ramadan, Pedagang Starling Raup Cuan 3 Kali Lipat
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Demo Mahasiswa di Mabes Polri saat Ramadan, Polisi Berpeci dan Bersorban Siap Bagi Takjil
-
Kecewa Tak Ditemui Kapolri, BEM UI dan Aliansi Mahasiswa Ancam Gelar Aksi Lebih Besar
-
Dituntut 2 Tahun Penjara Terkait Demo Agustus, Syahdan Husein Soroti Kasus Aparat Bunuh Anak di Tual
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari
-
Menhut Raja Juli Soal Inpres Gajah: 9 Menteri Wajib Jaga Habitat Nona Seroja dan Bang Domang
-
Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!
-
Teror Bom di SD Srengseng, Wakil Ketua Komisi X Desak Polisi Usut Tuntas