- Pangeran Bin Salman berjanji kepada Presiden Iran tidak akan mengizinkan serangan dari wilayah Saudi, namun melobi Trump untuk menyerang Iran.
- Bin Salman bersama Netanyahu membujuk Presiden Trump menyerang Iran pada Januari-Februari 2026 karena takut Iran makin kuat.
- Upaya lobi tersebut memicu serangan militer besar AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), menewaskan Pemimpin Besar Iran.
Suara.com - Pada Januari lalu media-media internasional melaporkan percakapan telepon antara pemimpin de facto Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam komunikasi itu Bin Salman menegaskan Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udara dan teritorinya digunakan untuk melancarkan serangan atas Iran.
Kepada Pezeshkian Bin Salman menekankan Arab Saudi mendukung "upaya penyelesaian perbedaan melalui dialog" demi memperkokoh stabilitas di kawasan Teluk.
Tapi apa yang dikatakan kepada Pezeshkian berbeda sama sekali dengan apa yang dilakukan Bin Salman di balik layar.
Seperti diwartakan The Washington Post (WP) pada Minggu (1/3/2026), Bin Salman merupakan salah satu aktor yang tanpa lelah membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarakan serangan militer ke Iran, seperti yang terjadi pada akhir pekan kemarin hingga saat ini.
Menurut empat orang sumber yang diwawancarai WP, Bin Salman dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu berkolaborasi merayu Trump untuk melancarkan serangan militer pamungkas terhadap Iran.
Setidaknya selama Januari - Februari kemarin, Bin Salman beberapa kali menelepon Trump secara pribadi meminta agar AS bersama Israel melancarakan serangan ke Iran. Sementara Netanyahu secara terbuka berkali-kali mendesak AS agar segara menyerang Iran.
Dalam percakapan dengan Trump, Bin Salman menakut-nakuti Presiden AS itu bahwa Iran akan bangkit lebih kuat dan lebih membahayakan Amerika Serikat jika tidak diserang saat ini, ketika kekuatan militernya sedang rapuh akibat serangan AS & Israel pada tahun lalu dan kekacauan di dalam negeri akibat ekonomi yang ambruk.
Desakkan Mohammad bin Salman itu kemudian diperkuat oleh masukkan dari Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman yang tak lain adalah saudara sang Putra Mahkota. Khalid dalam pertemuan dengan para pejabat AS di Washington pada Januari lalu mengatakan ada ancaman nyata jika Iran tidak dihabisi saat ini.
Tetapi informasi ini dibantah oleh Saudi. Seorang pejabat yang diwawancarai WP mengatakan pihaknya selaluu mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran.
Baca Juga: IHSG Terjun Bebas 1,73% pada Senin Pagi Imbas Konflik AS-Iran, 600 Saham Merah
"Tidak sekali pun kami, dalam komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, melobi sang presiden untuk mengadopsi kebijakan berbeda," kata pejabat tersebut.
Upaya dua aktor utama ini berujung pada serangan militer besar-besaran AS dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) kemarin. Di hari pertama serangan, Pemimpin Besar Iran Ayataollah Ali Khamenei tewas bersama sejumlah pejabat tinggi Iran.
Trump disebut sempat gamang untuk menyrang Iran. Alasannya karena intelijen AS mengatakan bahwa militer Iran tidak memiliki kekuatan mengancam wilayah Amerika Serikat hingga satu dekade mendatang.
Operasi militer yang kini berlangsung itu disebut keluar dari pakem AS selama setidaknya beberapa dekade terakhir, yang tidak mau mengerahkan segala kekuatan untuk menjatuhkan rezim di sebuah negara besar.
Kebijakan ini juga disebut bukan gaya militer Trump - berbeda dari misalnya Presiden George Bush yang punya ambisi petualangan militer lebih besar saat menyerang Afghanistan dan Irak.
"Tidak ada presiden yang mau melakukan apa yang saya lakukan malam ini. Kini kalian memiliki presiden yang memberikan apa saja yang kalian mau," kata Trump dalam pidatonya pada Sabtu malam.
Tag
Berita Terkait
-
Eskalasi Timur Tengah Memanas, Inggris Bersiap Evakuasi 94.000 Warganya
-
Rekomendasi Saham IHSG yang Diprediksi 'Tahan Banting' saat Perang Meletus
-
Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Siapa yang Pimpin Iran Saat Ini?
-
Menlu Iran Ancam Balas Serangan Israel-AS yang Tewaskan 51 Siswi SD
-
Timur Tengah Membara, Harga Minyak Dunia Menuju Level Tertinggi 13 Bulan
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir
-
Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk
-
Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa
-
Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu
-
12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang
-
Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati
-
Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah
-
Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend