News / Internasional
Senin, 02 Maret 2026 | 13:41 WIB
Ilustrasi perang Iran Israel. (Foto: Reuters)
Baca 10 detik
  • Inggris bersiap evakuasi 94.000 warganya dari Timur Tengah akibat eskalasi militer.
  • Menlu Inggris pimpin operasi evakuasi besar-besaran wisatawan di kawasan Timur Tengah.
  • Agresi militer AS-Israel ke Iran picu gelombang evakuasi warga negara asing.

Suara.com - Pemerintah Inggris tengah bersiap mengevakuasi sedikitnya 94.000 warga negaranya dari kawasan Timur Tengah.

Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik regional yang kian memanas, lapor Daily Mail sebagaimana dikutip RIA Novosti, Senin (2/3/2026).

Puluhan ribu warga tersebut dilaporkan telah mendaftarkan detail kontak mereka ke Kantor Luar Negeri Inggris guna mendapatkan perlindungan.

Sebagian besar dari mereka merupakan wisatawan yang sedang berlibur di kawasan tersebut atau pelancong yang tengah transit menuju wilayah lain.

Operasi evakuasi berskala besar ini dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper.

Saat ini, otoritas Inggris tengah menjalin negosiasi intensif dengan sejumlah maskapai penerbangan besar asal Arab guna mengamankan dukungan transportasi serta kelancaran operasional kerja sama evakuasi.

Krisis di kawasan ini dipicu oleh agresi militer bersama antara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan tersebut menargetkan berbagai titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur parah serta jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil.

Iran merespons agresi tersebut dengan meluncurkan serangan rudal balasan yang menyasar wilayah kedaulatan Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai bentuk pembelaan diri.

Baca Juga: Orang Dalam FIFA Blak-blakan Nasib Iran di Piala Dunia 2026

Ironisnya, agresi militer terhadap Iran ini terjadi di tengah berlangsungnya perundingan isu nuklir di Jenewa, Swiss. Perundingan yang dimediasi oleh Oman tersebut sebelumnya diharapkan mampu meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. (Antara/Sputnik/RIA Novosti-OANA)

Load More