- Militer AS dan Israel menyerang Teheran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Maret 2026.
- Rusia mengutuk serangan tersebut sebagai agresi tanpa provokasi, sementara China menyerukan gencatan senjata segera.
- Korea Utara mengecam keras operasi militer tersebut, menyebutnya agresi ilegal dan pelanggaran kedaulatan nasional.
Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah militer Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke jantung Kota Teheran, Iran.
Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah kekuatan dunia seperti Rusia, China, dan Korea Utara.
Ketiga negara itu secara tegas mengutuk aksi militer tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima.
Rusia: “Tindakan Agresi Tanpa Provokasi”
Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tidak beralasan.”
Melansir laporan AP News, Rusia menuduh Washington dan Tel Aviv menggunakan isu program nuklir sebagai kedok untuk melakukan upaya penggulingan kekuasaan (regime change).
Moskow memperingatkan bahwa serangan ini berisiko memicu bencana kemanusiaan, ekonomi, hingga bencana radiologis di kawasan tersebut.
"Tanggung jawab atas konsekuensi negatif dari krisis buatan manusia ini, termasuk reaksi berantai yang tidak terduga dan spiral kekerasan, sepenuhnya berada di tangan mereka (AS dan Israel)," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dikutip dari AP News, Senin (2/3/2026).
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dilaporkan telah berkomunikasi via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk menyatakan kesiapan Moskow dalam menengahi perdamaian.
China: Serukan Gencatan Senjata dan Evakuasi Warga
Baca Juga: Iran Tergaskan Tak Bakal Tumbang Meski Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Wafat
Sementara itu, China menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak penghentian segera aksi militer tersebut.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dalam pembicaraan telepon dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov, menegaskan bahwa “pembunuhan terang-terangan terhadap pemimpin berdaulat” adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
Dikutip dari laporan Reuters dan pernyataan resmi di media sosial X, Wang Yi menilai serangan tersebut merupakan bentuk politik kekuasaan dan hegemoni yang melanggar Piagam PBB.
"China menyerukan penghentian segera aksi militer, tidak adanya eskalasi lebih lanjut, dan dimulainya kembali dialog untuk menjaga perdamaian di Timur Tengah," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
Seiring meningkatnya ketegangan, Kedutaan Besar China di Israel dan Iran telah mengeluarkan instruksi darurat kepada warga negaranya untuk segera mengevakuasi diri dan meninggalkan wilayah tersebut melalui jalur darat maupun udara.
Korea Utara: AS Bersikap Gangster dan Hegemonik
Sikap tak kalah keras datang dari Pyongyang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut operasi militer AS dan Israel sebagai “agresi ilegal” dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional.
Berdasarkan laporan Reuters yang mengutip media pemerintah KCNA, Korea Utara menilai serangan tersebut sudah dapat diprediksi karena sifat Amerika Serikat yang mereka sebut sebagai “gangster dan hegemonik.”
"Perang agresi oleh Amerika Serikat dan Israel tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun," tegas juru bicara tersebut.
Pyongyang juga menyerukan agar negara-negara di kawasan bertanggung jawab untuk memulihkan stabilitas di Timur Tengah.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bupati Langkat Diduga Terima Suap Rp 800 Juta untuk Proyek di Disdik dan Disperkim
-
KPK Tetapkan Bupati Langkat dan Anggota Tim Suksesnya Jadi Tersangka Usai OTT
-
Dalam Open House, Gubernur DKI Jakarta Janji Carikan Lahan Tambahan untuk Sekolah Rakyat
-
Teringat Masa Lalu, Gubernur DKI Jakarta Terharu Saat Hadiri Open House Sekolah Rakyat
-
Jelang MPLS, Gus Ipul Ingatkan Kepala Sekolah Rakyat Siap Hadapi Fase Krusial
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil