- Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mencuat sebagai figur potensial kuat untuk Pilpres 2029 karena posisi strategis dan latar belakang kultural.
- Akademisi menilai latar belakang kultural Sulawesi memberikan Sjafrie peluang besar sebagai "matahari baru" dalam kontestasi kepemimpinan nasional.
- Survei IPI periode Januari-Februari 2026 menunjukkan Sjafrie masuk jajaran atas bakal calon presiden, didukung kepemimpinan dan rekam jejaknya.
Suara.com - Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menghangat. Sosok Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mencuat sebagai figur potensial yang disebut-sebut bakal menjadi "matahari baru" dalam kontestasi kepemimpinan nasional mendatang.
Akademisi Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, Firdaus Syam, menilai Sjafrie memiliki modal kuat, baik dari sisi posisi strategis maupun latar belakang kultural. Sebagai putra kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, Sjafrie dinilai mewarisi karakter petarung khas Indonesia Timur.
"Menhan Sjafrie secara budaya politik memiliki peluang sebagai 'matahari baru' dalam Pilpres 2029," ujar Firdaus dikutip Selasa (3/3/2026).
Trah Petarung
Menurut Firdaus, karakter Sjafrie selaras dengan tokoh-tokoh besar asal Sulawesi lainnya yang telah mewarnai sejarah kepemimpinan Indonesia, seperti Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan Wakil Presiden ke-10 & ke-12 RI Jusuf Kalla.
Ia memandang orang-orang asal Sulawesi memiliki DNA yang berani dan cerdas. "Menhan Sjafrie secara budaya politik memiliki peluang sebagai 'matahari baru' dalam Pilpres 2029," tegas Firdaus.
Senada dengan itu, peneliti politik milenial Gian Kasogi menyoroti posisi Sjafrie yang berada di lingkaran dalam kekuasaan saat ini. Menurutnya, Sjafrie bukan sekadar elite biasa, melainkan figur yang memegang kunci strategis karena berada di jaringan inti Presiden Prabowo Subianto.
Kejutan dari Bursa Survei
Nama Sjafrie Sjamsoeddin kini mulai menembus papan atas bursa bakal calon presiden. Hasil survei terbaru Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan kemunculan wajah-wajah baru yang menantang dominasi nama lama. Selain Sjafrie, muncul pula nama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hingga sejumlah gubernur.
Baca Juga: Konflik AS-Israel dan Iran Memanas, Pemprov DKI Jamin Stok Pangan Jakarta Aman Jelang Lebaran
Peneliti IPI Abdan Sakura mengungkapkan bahwa elektabilitas para tokoh baru ini dipengaruhi oleh kombinasi kepemimpinan, rekam jejak, hingga visi-misi yang ditawarkan.
Khusus untuk Sjafrie, IPI mencatat empat indikator utama yang memperkuat posisinya:
- Kepemimpinan dan Ketokohan: 44 persen.
- Rekam Jejak Kepemimpinan: 17 persen.
- Rekomendasi Lingkungan dan Media: 12 persen.
- Integritas: 10 persen.
"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," jelas Abdan dalam keterangan yang diterima Selasa (10/2).
Abdan menambahkan, munculnya nama-nama ini bisa menjadi jawaban jika terjadi dinamika politik yang tidak terduga di masa depan.
"Celah itu yang membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya 'pemain utama'," pungkasnya.
Sebagai informasi, survei IPI ini dilakukan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026. Riset melibatkan 1.241 responden berusia 17-65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di seluruh Indonesia. (Antara)
Berita Terkait
-
Akademisi UNAS Sebut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Berpotensi Jadi Matahari Baru di Pilpres 2029
-
Disebut Mandek 10 Tahun, Pramono Anung Heran Soal Gaji Nakes Jakarta: Masa Sih Nggak Naik?
-
Konflik AS-Israel dan Iran Memanas, Pemprov DKI Jamin Stok Pangan Jakarta Aman Jelang Lebaran
-
Pramono Anung Ingin Pasang CCTV di Hutan Kota Cawang Usai Laporan Penyalahgunaan Fasilitas Publik
-
Pramono Anung Waspadai Dampak Serangan AS-Israel ke Iran: Harga Barang di Jakarta Bisa Melonjak
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Siapa yang Menentukan Audit BPK di 3 Daerah Sumsel? Ini yang Kini Didalami KPK
-
Minta Praperadilan Febrie Ditolak, Kejagung: Tak Ada Duplikasi Penetapan Tersangka
-
Yuk Nonton Maestro Tenor Andrea Bocelli di Borobudur, Pertemuan Mahakarya Dunia dan Warisan Budaya
-
PDIP Kirim Kapal Rumah Sakit ke Flores, Hasto: Bantu Korban Tanpa Lihat Pilihan Politik
-
Bantu Korban Gempa NTT, Pemprov DKI Kumpulkan Donasi Rp5,8 Miliar
-
Beredar Kabar OTT di Kabupaten Bogor, KPK: Kami Akan Sampaikan Kepada Publik Secara Transparan
-
Mengenal Karakter Zodiak Bulan September, Si Detail Virgo dan Si Harmonis Libra
-
Keluarga Ungkap Fakta di Balik Tewasnya Kakek 80 Tahun Terserempet KRL di Cawang-Tebet
-
Banggar Tagih Profil Utang Pemerintah, Purbaya Janji Serahkan Dalam 10 Hari
-
Timeless Project Live Ajak Generasi 2000-an Bernostalgia Lewat Lima Warna Musik