Meskipun masih mendukung idola K-pop-nya, Treasure Maker, Puni memutuskan untuk mengikuti girl band lain dari Indonesia.
"Saya mengikuti No Na juga. Mungkin dari situ banyak ke-distract [teralihkan] kali, ya. Jadi, K-popnya nanti dulu," ujarnya.
"Daripada maksudnya setiap buka X aduh, berantem lagi. Isinya marah-marah lagi, ngatain lagi, mending distract ke cari konten yang disuka, kayak No Na."
Beberapa pembuat konten di media sosial dari Korea Selatan telah meminta maaf.
"Atas nama Korea, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Rasisme seharusnya tidak pernah terjadi," kata seorang pengguna TikTok.
Kreator konten Korea Selatan, Jin Seunghyeon, yang merupakan mahasiswa di Indonesia, juga telah menyampaikan permintaan maaf.
"Saya percaya bahwa dalam situasi saat ini, orang Indonesia memandang orang Korea Selatan sebagai rasis secara umum, yang jauh dari kebenaran menurut perspektif saya," katanya kepada ABC.
'Rasisme sistemik'
Menurut platform analitik global K-pop Radar, Indonesia adalah pasar K-pop terbesar di Asia Tenggara, tetapi perseteruan daring tersebut telah menyebabkan banyak penggemar menyerukan boikot konser K-pop dan budaya Korea secara lebih luas.
"Budaya pop asing yang ada di Indonesia itu sekarang didominasi oleh Korean Wave, baik dari lagu K-Pop atau K-drama, atau juga industri kecantikannya, K-beauty dan juga pariwisata," kata Ranny Rastati, peneliti budaya pop Korea di Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.
Baca Juga: Infinix Resmi Gaet Idol K-pop Yuna ITZY Jadi Global Brand Ambassador Pertama
Ranny mengatakan meskipun konflik online tersebut kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan industri Korea, para penggemar mungkin akan mulai mengonsumsi lebih banyak konten dari negara lain seperti China dan Thailand.
"Saya pikir kalau dua negara ini bisa mengambil momentum dari kejadian Knetz versus SEAblings, ini mungkin bisa memperkuat dominasi mereka terhadap K-Pop," katanya.
Perseteruan di internet itu juga menyentuh isu "rasisme sistemik" di Korea Selatan, terhadap warga Asia Tenggara, dan "mereka yang berkulit lebih gelap."
Ivy Tania mengatakan mengalami rasisme di Korea Selatan ketika ia pergi ke sana pada tahun 2014 untuk 'training' sebagai idola K-pop.
Ketika baru datang, Ivy mengaku merasakan kebaikan dan keramahan dari teman-teman Koreanya.
Namun, ia mulai mengalami tindakan rasisme di sana ketika dalam perjalanan ke Busan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Persebaya Babak-belur di Kandang Borneo FC, Ini Dalih Bernardo Tavares
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Terkini
-
Konflik AS-Iran Memanas: Bagaimana Nasib Iran di Piala Dunia 2026?
-
Iran Sebut Tangkap Tentara AS, Washington Membantah
-
Negara Teluk "Hujan" Rudal, Mengapa Presiden Iran Minta Maaf Lalu Serang Lagi?
-
TNI Siaga 1 Hadapi Dampak Perang Iran, Simak 7 Perintah Panglima Jenderal Agus Subiyanto
-
Possum & Glider Papua 'Bangkit dari Kepunahan' Setelah 6.000 Tahun
-
Banjir Jakarta Meluas: Cek Daftar 17 Rute Transjakarta yang Dialihkan dan Berhenti Operasi Hari Ini
-
Menakar Ketahanan Energi RI: Stok BBM 20 Hari Jadi Sorotan Tajam
-
Ribuan Berkas Epstein Files Mendadak Hilang, Banyak Singgung Donald Trump
-
Hujan dan Angin Kencang, Satu Pengendara Motor Tewas Tertimpa Pohon Tumbang di Lenteng Agung
-
Ini dia Rudal Generasi Baru Iran, Spek Gahar Mampu Bermanuver di Luar Atmosfer Bumi