News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 11:48 WIB
ILUSTRASI antrean BBM di Bangladesh (Suara.com)
Baca 10 detik

 

  • Bangladesh menutup universitas lebih awal guna menghemat listrik akibat krisis energi global.

  • Pembatasan penjualan BBM harian diberlakukan untuk mengatasi kepanikan warga dan aksi penimbunan.

  • Pemerintah mengalihkan pasokan gas industri ke pembangkit listrik demi mencegah pemadaman massal.

Sistem penjatahan ini diberlakukan secara ketat untuk memastikan pemilik kendaraan roda dua dan roda empat tidak menimbun sisa stok.

Kondisi Sektor Industri dan Impor LNG

Bangladesh berada dalam posisi rentan karena sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan 70 persen kebutuhan gasnya bergantung pada impor.

Gangguan pada jalur ekspor minyak di Timur Tengah menyebabkan harga energi di pasar internasional melonjak ke angka yang sulit dijangkau.

Kekurangan gas yang sangat ekstrem bahkan telah mengakibatkan empat dari lima pabrik pupuk milik negara terpaksa berhenti beroperasi total.

Pemerintah memilih mengalihkan sisa stok gas yang ada ke sektor pembangkit listrik demi menghindari pemadaman total secara nasional.

Demi menjaga ketersediaan energi, Bangladesh terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli gas alam cair (LNG) dari pasar spot.

Enam kapal pengangkut bahan bakar dilporkan telah bersandar di Pelabuhan Chattogram untuk sedikit melonggarkan tekanan krisis di dalam negeri.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa ada lima kapal tambahan yang membawa muatan diesel dan LPG sedang dalam perjalanan menuju Bangladesh.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mulai Meroket, BBM Indonesia Kapan Naik?

Para pengamat mengingatkan bahwa penutupan universitas dalam jangka panjang dapat merugikan kalender akademik mahasiswa jika situasi energi tidak segera pulih.

Seluruh institusi pendidikan direncanakan kembali beroperasi normal setelah Idulfitri dengan catatan kondisi pasokan energi global mulai menunjukkan stabilitas.

Load More