- Operasi "Epic Fury" AS-Israel gagal melumpuhkan Iran karena Teheran menunjukkan ketahanan politik dan transisi kepemimpinan mulus.
- Dukungan publik Amerika terhadap agresi militer sangat rendah, dengan 60% warga tidak setuju cara Presiden Trump mengelola aksi tersebut.
- Hezbollah membuka front pertempuran baru di Lebanon, memaksa Israel mundur dan menghadapi tekanan besar di dua front perang.
Suara.com - Perang berskala besar yang digagas oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan nama “Epic Fury” awalnya diproyeksikan sebagai serangan kilat untuk melumpuhkan pusat kekuatan Iran.
Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi tersebut justru menemui jalan buntu karena Teheran menunjukkan ketahanan politik dan militer yang jauh lebih solid dari prediksi intelijen Barat.
Alih-alih runtuh, Iran justru berhasil melakukan transisi kepemimpinan dengan cepat dan mulai melancarkan serangan balik yang menguras sumber daya serta konsentrasi pasukan koalisi di berbagai front.
Amerika Tak Solid, Warga Tak Dukung Serangan ke Iran
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, dukungan terhadap kebijakan perang ini ternyata sangat rapuh dan menunjukkan perpecahan yang dalam.
Hasil survei terbaru dari Economist/YouGov mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa hanya sekitar 32% warga Amerika yang mendukung agresi militer terhadap Iran.
Mayoritas publik merasa skeptis dan tidak memiliki selera untuk terlibat dalam “perang tanpa akhir” lainnya di Timur Tengah, terutama setelah pengalaman pahit di Irak dan Afghanistan.
Ketidakpuasan ini semakin meluas karena sekitar 60% warga AS tidak setuju dengan cara Presiden Donald Trump mengelola aksi militer tersebut.
Publik Amerika juga merasa bahwa pemerintah tidak cukup melakukan upaya diplomasi sebelum memutuskan untuk menggunakan kekuatan senjata.
Baca Juga: Update Perang Pakistan vs Afghanistan: BBM Langka, 160 Ribu Warga Terancam Kelaparan
Perpecahan ini semakin meruncing karena banyak pemilih Trump merasa dikhianati; mereka sebelumnya mendukung Trump karena janji kampanye untuk menghentikan perang luar negeri yang mahal, namun kini justru melihat anggaran negara disedot untuk konflik yang tidak memiliki rencana akhir yang jelas.
Ketidakpercayaan publik ini mencakup keraguan atas kemampuan presiden dalam mengambil keputusan militer yang tepat, di mana 62% warga mendesak agar setiap langkah militer selanjutnya harus mendapatkan persetujuan Kongres terlebih dahulu.
Media Iran Sebut Epic Fury sebagai Epic Failure
Media di Iran, Tehran Times, bersama dengan sejumlah pengamat internasional, mulai memberikan label baru bagi operasi militer Washington ini sebagai “Epic Failure” atau kegagalan epik, plesetan dari Epic Furry, nama operasi militer yang digencarkan AS untuk serbu Iran.
Istilah ini pertama kali populer setelah pengangkatan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru yang berlangsung sangat mulus dan tanpa hambatan, membuktikan bahwa institusi pemerintahan Iran tetap utuh meskipun digempur serangan udara.
Analis dari Financial Times, Gideon Rachman, bahkan menyebutkan bahwa dengan harga minyak yang melonjak drastis hingga 110 dolar AS (sekitar Rp 1.843.600) per barel, strategi AS ini berada dalam bahaya besar.
Berita Terkait
-
Update Perang Pakistan vs Afghanistan: BBM Langka, 160 Ribu Warga Terancam Kelaparan
-
Tampang Insinyur India Diduga Agen Mossad, Bocorkan Lokasi Strategis Negara Sekutu AS
-
Adik Benjamin Netanyahu Dikabarkan Tewas Rumahnya Dibom Iran, Begini Kata Israel
-
Ratusan Prajurit Amerika Mulai Membelot, Muak dengan Pembantaian Siswi SD di Minab
-
Rudal 'Kiamat' Iran Gempur Israel, Berat Hulu Ledak 1 Ton
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
El Nino Diprediksi Lebih Panjang, Jakarta Siapkan Modifikasi Cuaca dan Water Mist
-
Benjamin Netanyahu Sakit Kanker dan Tumor Jenis Apa? Pantes Jarang Tampil, Sering Pakai Video AI
-
Donor Darah Bareng Bank Jakarta dan PMI, Stok Darah DKI Didorong Tetap Aman
-
KPK Percepat Kasus Korupsi Haji, 2 Tersangka Swasta Segera Diperiksa
-
Respons PBB Usai Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon, Desak Israel Hentikan Serangan
-
UU PPRT Resmi Disahkan, Migrant Watch Peringatkan Risiko Eksploitasi Jika Tanpa Upah Minimum
-
7 RW di Kemayoran Ogah Ikut Musrenbang, Rano Karno Ungkap Biang Masalah 35 Tahun
-
31.000 Rumah Terdampak Bencana Terima Dana Stimulan Perbaikan Hunian
-
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng NU, Bidik Perlindungan Pekerja Informal Skala Nasional
-
Ribuan Pelari Ramaikan Adhyaksa International Run 2026, BNI Dukung Sport Tourism di Bali