-
Iran bersiap menghadapi serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas minyak dan situs nuklir nasional.
-
Menlu Iran memperingatkan adanya kejutan militer jika kedaulatan energi mereka diganggu pihak lawan.
-
Harga minyak dunia diprediksi mencapai USD200 per barel jika konflik militer pecah terbuka.
Respons militer Iran dilaporkan mencakup operasi yang sangat luas terhadap kepentingan strategis lawan di kawasan Teluk.
Target utama dari operasi balasan ini adalah aset-aset militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara penghasil minyak.
Ketegangan ini secara langsung telah memicu kepanikan luar biasa pada perdagangan minyak dan gas bumi internasional.
Gelombang kejutan ekonomi ini mulai merambah ke berbagai bursa komoditas utama di seluruh dunia.
Militer Iran pun secara resmi telah mengumumkan peluncuran armada drone terbaru untuk menyerang target-target strategis.
Serangan pesawat tak berawak tersebut merupakan jawaban atas tindakan ilegal yang dilakukan oleh rezim lawan.
Iran memberikan sinyal bahwa mereka akan terus meningkatkan intensitas produksi kekuatan militernya secara signifikan.
Jika fasilitas energi mereka disentuh, Teheran mengancam akan melakukan serangan balasan dengan skala yang sebanding.
Wilayah-wilayah strategis di sekitar Teluk Persia kini berada dalam pengawasan ketat radar militer kedua belah pihak.
Baca Juga: Iran Tolak Tawaran Dialog Trump: Selama Ramadan Kami Tak Berbicara dengan Setan
Ketidakpastian ini membuat para investor dan pelaku industri energi global merasa sangat khawatir akan pasokan masa depan.
Para pengamat pasar keuangan mulai memberikan peringatan dini mengenai skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Jika serangan terhadap fasilitas produksi benar-benar pecah, pasokan minyak mentah dunia akan mengalami gangguan yang fatal.
Analis memprediksi harga minyak dunia bisa saja meroket hingga melampaui angka USD200 per barel dalam waktu singkat.
Harga setinggi itu akan menjadi rekor sejarah baru yang belum pernah tercapai pada dekade-dekade sebelumnya.
Kondisi ini dipastikan akan menyeret ekonomi global ke dalam jurang resesi dan inflasi yang sangat berkepanjangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Detik-detik Motor PCX Tersenggol dan Terlindas Bus TransJakarta di Sudirman
-
Bambang Pamungkas Bela Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026
-
Wisata Kuliner Dunia Sambil Belanja, Tren Baru yang Makin Diminati Masyarakat Serang
-
Bagaimana Cara Mengatasi Bedak yang Terlalu Putih? Akali dengan Produk Ini
-
Review Film Smile: Drama Horor Psikologis dengan Kejutan Maut yang Nyata!
-
Setelan Ganas Honda NSF250RW Tantang Gelombang Panas Eropa, Kans Ramadhipa Rajai Moto3 Magny-Cours
-
The Black Lizard: Duel Kecerdasan Detektif dan Ratu Kriminal yang Menegangkan
-
Prabowo Sebut Cak Imin, Dasco dan Bahlil 3 Kancil Politik: Kalau Mereka Kumpul Repot Kita!
-
Nekat Tembak Paha Korban Lalu Kabur ke Lampung, Duo Maling Motor Matraman Ciut di Tangan Polisi
-
6 Cara Mengatasi Blush On Ketebalan dan Terlalu Menor, Tak Khawatir Merusak Makeup