- AJI Jakarta menyatakan upah minimum di Jakarta belum mencukupi kebutuhan layak bagi para pekerja media pemula.
- Survei AJI tahun 2025 menetapkan upah layak pekerja media sebesar Rp 9,1 juta, melampaui UMP tahun 2026.
- Upah rendah bagi jurnalis berisiko mengancam independensi media serta tidak sebanding dengan tingginya risiko kerja di lapangan.
Suara.com - Divisi Ketenagakerjaan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Bethriq Kindy Arrazy menyebut bahwa upah minimum tidak sesuai dengan kebutuhan di Jakarta bagi pekerja media.
Padahal, dia menegaskan kehidupan layak ialah upah yang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari pekerja, termasuk pekerja media di Jakarta.
Survei yang dilakukan AJI Jakarta pada 2025 menunjukkan upah layak bagi pekerja media pemula seharusnya sebesar Rp 9,1 juta per bulan. Angka itu lebih besar dari survei pada 2024, yaitu Rp 8,1 juta.
“Di sisi lain, kenaikan yang kita survei ini juga tidak terlalu timpang ya dengan komponen hidup layak yang dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan,” kata Kindy dalam diskusi publik bertajuk ‘Respons Rakyat: Seperti Apa Prinsip Kerja Layak yang Seharusnya?’ pada Sabtu (25/4/2026).
Pasalnya, Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2026 sebesar Rp 5,7 juta. Angka itu dinilai jauh dari kebutuhan pekerja muda pemula di Jakarta berdasarkan survei AJI Jakarta.
“Bahkan teman-teman juga jurnalis juga masih ada juga yang menerima upah di bawah UMR gitu ya. Beberapa bahkan media yang punya nama gitu ya di Indonesia juga ada yang reporter yang digaji di bawah UMR,” ungkap Kindy.
Dia menegaskan bahwa pemberian upah di bawah UMR yang ditetapkan pemerintah merupakan pelanggaran hukum.
Kindy juga menilai bahwa kondisi ini membuat pekerja media menjadi rentan secara ekonomi. Hal ini dinilai bisa memengaruhi adanya intervensi yang mengancam independensi pekerja media.
“Misalkan menerima pemberian entah itu uang atau menerima dalam bentuk barang karena faktor upah yang tidak sesuai gitu ya. Nah, ini adalah efek domino ya ketika teman-teman pekerja media ini tidak mendapatkan upah yang sepatutnya,” ujar Kindy.
Baca Juga: Tentara Zionis Israel Bombardir Lebanon, 5 Warga Sipil Tewas Termasuk Seorang Jurnalis
Terlebih, Kindy menyoroti nasib pekerja media yang menjadi kontributor. Sebab, umumnya kontributor dibayar per berita yang mereka kirimkan ke perusahaan media.
“Upah mereka juga ada yang satu berita dibayar Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per artikel gitu ya. Dengan angka sekecil itu, terutama dengan risiko kerja di lapangan yang cukup besar ya risiko ada intimidasi, belum lagi risiko bencana dan lain-lain,” tegas Kindy.
“Artinya upah yang diberikan ini tidak sepadan dengan risiko kerja yang dilakukan oleh teman-teman jurnalis di lapangan gitu ya,” tandas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan
-
BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama
-
Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya
-
Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi
-
Wamendagri Wiyagus: Desa Berperan Penting Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global
-
Heboh Isu SDN di Ende Digusur Jadi Kopdes, Jenderal Maruli: Gak Normal kalau Membubarkan Sekolah
-
Dilema Driver Ojol Pilih Mesin Motor Awet atau Kantong Jebol karena Harga Pertamax Naik
-
Percepat Normalisasi Sungai, Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama dengan Pihak Ketiga
-
Namanya Muncul dalam Kasus Korupsi BGN, Wakil Ketua KPK: Saya Tak Bisnis Dapur
-
Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045