- Proyek galian utilitas di Jakarta menyebabkan kemacetan kronis karena belum adanya Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT).
- Direktur Utama PAM Jaya menyebut SJUT penting untuk menempatkan utilitas terintegrasi tanpa membongkar permukaan jalan.
- Pembangunan SJUT terhambat oleh kepadatan populasi Jakarta, investasi besar, dan ketidaksesuaian jadwal antarinstansi.
Suara.com - Proyek galian jaringan utilitas di berbagai sudut jalanan Jakarta yang seolah tidak ada habisnya kini menjadi sorotan tajam karena memicu kemacetan kronis.
Pihak PAM Jaya akhirnya angkat bicara untuk membeberkan alasan di balik fenomena proyek galian yang terus menerus muncul dari satu titik ke titik lainnya.
Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menyatakan bahwa aktivitas penggalian ini akan selalu ada selama Jakarta belum memiliki Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT).
Infrastruktur SJUT merupakan sebuah lorong bawah tanah yang dirancang khusus untuk menempatkan kabel telekomunikasi, listrik, hingga pipa air secara kolektif dan terintegrasi.
Keberadaan SJUT sangat krusial bagi kota modern agar proses pemasangan maupun perawatan jaringan utilitas tidak perlu lagi merusak permukaan jalan raya.
"Jakarta belum punya SJUT. Harusnya tuh kalau di kota-kota yang modern, yang lainnya, mereka tuh ada yang namanya SJUT. Jadi, pipa utilitas atau semua yang dibutuhkan sama kota itu ada di situ," kata Arief dalam acara Balkoters Talk di Balai Kota Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Arief mengakui bahwa upaya untuk membangun jaringan bawah tanah yang terpadu di Jakarta saat ini menghadapi tantangan yang sangat pelik.
Kepadatan populasi yang sudah teramat masif di ibu kota menjadi kendala utama yang menyulitkan realisasi pembangunan infrastruktur canggih tersebut.
Tak hanya kendala teknis di lapangan, nilai investasi yang dibutuhkan untuk membenahi seluruh jaringan utilitas Jakarta juga tergolong sangat fantastis.
Baca Juga: Praperadilan Ditolak, Yaqut Cholil Qoumas Tetap Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji
"Memang ini jadi PR besar. Tapi kalau membangun SJUT juga nggak mudah dengan kondisi populasi kota yang sudah seperti ini. Itu luar biasa, dan investasinya nggak kecil. Ratusan triliun untuk membangun itu semua," ungkapnya.
Faktor lain yang menyebabkan proyek galian terkesan abadi adalah adanya sengkarut kebijakan serta perbedaan jadwal kerja antara pemerintah pusat dan daerah.
Ketidaksinkronan agenda pengerjaan antarinstansi membuat proyek baru sering kali muncul tepat setelah proyek sebelumnya di lokasi yang sama baru saja usai.
"Ya, mau nggak mau tumpang tindihnya itu masih terjadi," pungkas Arief.
Kondisi karut-marut ini berdampak langsung pada penyempitan lajur jalan yang menjadi biang kerok kemacetan panjang bagi warga yang beraktivitas di Jakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
Terkini
-
Daftar Bansos Kini Tak Bisa Asal, Kemensos Bisa Cek Kendaraan, Listrik hingga Aset Tanah
-
Pramono Minta Daerah Penyangga Ikut Tanggung Beban Transjabodetabek, Minimal Benahi Halte
-
Bukan Hanya Soal Suhu: Apa yang Membuat Hutan Bumi Menyerap Lebih Banyak Karbon?
-
Wamendagri Ribka Tegaskan Komitmen Kawal Percepatan Pembangunan KSPEAN Papua Selatan
-
Segera Lepas Dolar Anda! Dasco Wanti-wanti Agar Tak Rugi Minggu Depan
-
Disperindag Gelar WIITEX 2026: Perkuat Posisi Produk Teh, Kopi, dan Kakao Jabar di Pasar Global
-
Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
-
Mengapa Krisis Iklim Tak Selesai Saat Dunia Capai Net-Zero Emission? Studi Ungkap Penjelasannya
-
504 Kepala Daerah Korup Sejak 2005, Mengapa Dana Banpol Tak Mampu Memperbaiki Kualitas Politik?
-
Menaker Serahkan Dokumen Ratifikasi Konvensi ILO 188 ke Dirjen ILO, Wujudkan Pesan Presiden Prabowo