-
Konflik Timur Tengah memicu kelangkaan gas memasak LPG secara nasional di seluruh India.
-
Kantin dan asrama menghapus menu teh serta masakan panas demi menghemat stok energi.
-
Restoran mulai beralih ke peralatan listrik akibat terganggunya distribusi gas lewat Selat Hormuz.
Minuman teh yang biasanya wajib tersedia kini mulai digantikan dengan air lemon yang lebih praktis.
Sup panas yang biasa disajikan saat makan siang pun kini berganti menjadi susu mentega atau dadih.
Di wilayah Tamil Nadu, persatuan pemilik asrama menginstruksikan anggotanya untuk berhenti memproduksi kopi sementara waktu.
Pembuatan roti pipih atau flatbread juga dihentikan karena proses memasaknya membutuhkan konsumsi gas yang tinggi.
Beberapa kantin menyatakan akan kembali ke menu normal setelah distribusi gas kembali stabil seperti semula.
Pihak pengelola hunian sewa terus mencari cara agar cadangan energi yang tersisa bisa bertahan lebih lama.
"Asrama kami hanya memiliki stok gas untuk sekitar 4-5 hari, dan jika mereka memasak hidangan yang mengonsumsi lebih sedikit energi, mereka mungkin dapat memperpanjang umur silinder (gas) selama dua hari lagi," kata Arunkumar DT, presiden Asosiasi Kesejahteraan Pemilik PG Bengaluru.
Keterbatasan bahan bakar ini diprediksi akan memaksa banyak restoran untuk memangkas kapasitas layanan mereka.
Analis dari Elara Securities, Karan Taurani, menyebutkan bahwa gangguan ini akan berdampak pada pesanan di platform pengiriman.
Baca Juga: Mengenal Kapal Perang US Fifth Fleet yang Masuk Bidikan Rudal Iran, Sudah Berumur31Tahun
Para pelanggan kemungkinan besar akan beralih ke jaringan layanan cepat yang menggunakan oven listrik.
Restoran yang mengandalkan alat penggoreng listrik dianggap lebih aman dalam menghadapi situasi krisis energi ini.
Di New Delhi, sebuah rumah makan pinggir jalan yang populer hanya mampu menyediakan menu nasi dan miju-miju.
Bahkan kantin Pengadilan Tinggi Delhi telah menghentikan layanan makanan berat dan hanya menawarkan roti lapis saja.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan energi domestik terhadap gejolak politik yang terjadi di mancanegara.
Hingga kini, warga masih menunggu solusi konkret agar aktivitas dapur mereka bisa kembali normal seperti sedia kala.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo Dinilai Ancam Demokrasi, Jurnalis: Kami Bukan Musuh Negara
-
Kemelekatan Adalah Derita
-
Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya: 51 Rumah dan 49 Leuit Hangus, Puluhan Ton Padi Musnah
-
Pria Tewas Diduga Dianiaya saat Melerai Perkelahian di Hiburan Malam Karimun
-
Berawal dari Teller, Ketangguhan Mantri BRI Ini Menginspirasi Warga Toraja Utara
-
Soal Ucapan 'Londo Ireng', PDIP: Kritik Tak Boleh Dibungkam!
-
Situasi Jalan Tambak Berangsur Kondusif, Penyebab Bentrokan Masih Diselidiki
-
Nonton Timnas di Pakansari Besok? Simak Skema Pengalihan Lalu Lintas Polres Bogor
-
Wamentrans Andalkan Tim Ekspedisi Patriot Bangun Pusat Ekonomi Baru di Kawasan Transmigrasi
-
Persija Jakarta Tetap Dukung Shin Tae-yong di Tengah Sanksi KFA