- Panglima TNI menginstruksikan Siaga 1 melalui Telegram Rahasia bernomor TR/283/2026 pada 1 Maret 2026.
- Status Siaga 1 merupakan kewaspadaan strategis, bukan persiapan perang, akibat ketegangan geopolitik global.
- Meskipun rahasia, telegram tersebut terekspos, dan keputusan ini diduga telah dikoordinasikan dengan Presiden.
Suara.com - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto resmi menginstruksikan seluruh jajaran prajuritnya untuk masuk ke status Siaga 1. Perintah ini tertuang dalam Telegram Rahasia (TR) bernomor TR/283/2026 yang ditandatangani oleh Asisten Operasi Panglima TNI, Letjen Bobby Rinal Makmun pada 1 Maret 2026.
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Slamet Ginting dalam sebuah podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV, mengungkapkan bahwa status siaga 1 ini bukanlah hal baru dalam praktik militer.
Menurutnya, langkah tersebut lazim diterapkan dalam situasi tertentu, seperti pergantian kepemimpinan nasional atau meningkatkan potensi ancaman keamanan.
“Bagi saya sebenarnya Siaga 1 itu bukan hal yang aneh, bukan hal yang baru. Jadi dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional tanpa orang tahu itu sesungguhnya Siaga 1 karena jangan sampai ada sabotase, ada pergantian yang batal segala macam,” ujar Slamet Ginting, dikutip Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, kondisi serupa juga pernah diterapkan sebelumnya, misalnya ketika Indonesia meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman terorisme.
Namun kali ini, perhatian publik meningkat karena telegram yang bersifat rahasia tersebut justru beredar di ruang publik.
“Yang menarik adalah telegram rahasia tapi terekspos. Artinya memberikan pemahaman kepada publik ada apa status yang menandakan meningkatnya kewaspadaan negara terhadap dinamika politik global,” katanya.
Dipicu ketegangan geopolitik global
Lebih lanjut, Slamet menilai peningkatan status kewaspadaan militer tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, khususnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan beberapa negara besar.
Baca Juga: Memahami Status Siaga 1 TNI: Ancaman Global, Kritik Pengamat, dan Apa Dampaknya bagi Publik?
“Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari konflik regional terutama di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran,” jelasnya.
Meski jarak geografis konflik tersebut jauh dari Asia Tenggara, dampaknya dinilai tetap dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, mulai dari aspek keamanan hingga stabilitas politik.
“Memang secara geografis jarak pusat konflik dengan kita di Asia Tenggara cukup jauh, tapi dampak politik, dampak keamanan, dampak psikologis masyarakat dari perang tersebut tetap akan mewarnai dan berpotensi merembet ke kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Ia menegaskan bahwa status Siaga 1 bukan berarti Indonesia bersiap menghadapi perang, melainkan bentuk kewaspadaan strategis.
“Bukan indikasi bahwa Indonesia sedang menghadapi perang, bukan berarti Siaga 1 persiapan perang, tidak. Itu menjaga kewaspadaan nasional,” ujarnya.
Koordinasi dengan presiden
Berita Terkait
-
Memahami Status Siaga 1 TNI: Ancaman Global, Kritik Pengamat, dan Apa Dampaknya bagi Publik?
-
Puan Maharani Minta Penjelasan TNI soal Penetapan Status Siaga 1 di Tengah Konflik Global
-
Pertanyakan Status Siaga 1 TNI, Peneliti UGM Soroti Potensi Pelemahan Demokrasi
-
TB Hasanuddin Sebut Pengumuman Siaga 1 TNI Aneh: Bikin Rakyat Gelisah
-
Panglima TNI Diminta Terangkan Status Siaga 1 Secara Transparan Agar Tak Picu Spekulasi Publik
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Kebakaran Lahan Kepung Sisi Gerbang Tol Kramasan Ogan Ilir
-
Gara-Gara Diomelin Ibu di Dapur, The Sabron Family Sukses Beli Rumah di Usia Belasan!
-
Piala Presiden 2026: Gol Bunuh Diri Konyol Nodai Debut Shin Tae-yong
-
ICCS 2026: Dorong Konten Kreator Tak Hanya Berdiskusi, tapi Langsung Berkarya
-
Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris
-
Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan, 21.060 Bibit Ditanam di Pesisir Jakarta
-
Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta
-
Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda