- Harga bensin di Amerika Serikat melonjak drastis dalam sepekan, rata-rata naik 16 persen menjadi $3,48 per galon karena konflik Timur Tengah.
- California mencatat harga tertinggi $5,20 per galon, sementara empat negara bagian Midwest masih di bawah $3,00 per galon.
- Pemerintah AS sementara melonggarkan sanksi minyak Rusia hingga 11 April untuk menambah pasokan dunia dan meredam kenaikan harga.
“Masyarakat butuh pasokan yang stabil, cadangan minimum, dan penegakan aturan anti-penimbunan harga,” kata organisasi tersebut.
Di wilayah Midwest, harga masih relatif lebih rendah.
Kansas menjadi yang termurah dengan 2,92 dolar per galon, diikuti Oklahoma 2,97 dolar, Missouri 2,99 dolar, dan Arkansas 2,99 dolar.
Keempat negara bagian itu kini menjadi satu-satunya yang masih di bawah 3 dolar.
Di Pantai Timur, harga berada di tengah-tengah. New York rata-rata 3,40 dolar per galon, New Jersey 3,34 dolar, dan Connecticut 3,37 dolar.
Mengisi tangki 12 galon di wilayah tersebut memerlukan sekitar 40 dolar atau setara Rp678.400.
Beberapa negara bagian mengalami lonjakan paling besar dalam sepekan.
Indiana naik 24,2 persen, Ohio 23,6 persen, Florida 21,2 persen, Iowa 20,6 persen, dan Oklahoma 20,8 persen.
Florida bahkan mencatat kenaikan 61 sen hanya dalam satu minggu.
Baca Juga: Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Lonjakan cepat ini dikaitkan dengan ketegangan di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan pengiriman di jalur tersebut membuat pasar energi global terguncang.
Meski begitu, pemerintah AS memperkirakan lalu lintas tanker akan segera kembali normal.
Kenaikan harga mulai mengubah perilaku masyarakat. Sebagian warga California beralih ke transportasi umum, sementara lainnya berburu harga termurah lewat aplikasi pemantau BBM.
“Bensin sekarang rasanya seperti mengambil tangan dan kaki kita,” keluh warga asal Sacramento, Amber Arias. “Harganya naik turun terus, jadi benar-benar gila.”
Langkah AS Turunkan Harga Minyak Dunia
Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah mengejutkan dengan melonggarkan sementara sanksi terhadap pengiriman minyak Rusia di tengah lonjakan harga energi global.
Kebijakan ini diambil setelah konflik dengan Iran mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz dan memicu kekhawatiran serius di Washington.
Departemen Keuangan AS mengumumkan bahwa pengiriman minyak Rusia yang sudah berada di laut diizinkan mencapai pembeli di berbagai negara.
Kebijakan ini berlaku sementara hingga 11 April sebagai upaya menahan kenaikan harga minyak yang mendekati 100 dolar per barel.
Langkah tersebut dinilai sebagai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS yang sebelumnya sangat keras terhadap Moskow sejak perang Ukraina pada 2022.
Namun tekanan ekonomi akibat krisis energi membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang tidak biasa.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kebijakan itu sebagai keputusan sulit.
“Langkah ini memang disayangkan, tetapi diperlukan dalam situasi saat ini,” katanya dilansir dari Channel 14.
Menurut Bessent, pelepasan minyak Rusia ke pasar dunia dapat menambah ratusan juta barel pasokan dan membantu menurunkan harga.
Ia mengakui Rusia akan mendapat keuntungan, namun menegaskan dampak strategisnya tidak akan besar dalam jangka panjang.
Berita Terkait
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
-
Indonesia Enggan Dukung Resolusi DK PBB yang Kurang Berimbang pada Iran
-
Dasco Ungkap Pembicaraannya dengan Prabowo soal Strategi 'Take Over' Gaza
-
Buntut Ketegangan Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Pemulangan 34 WNI dari Iran
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123