- Presiden Trump menyatakan prioritasnya adalah menyelesaikan konflik dengan Iran sebelum mengalihkan fokus strategis ke Kuba.
- Pemerintahan Trump menerapkan tekanan ekonomi signifikan terhadap Kuba, memicu demonstrasi domestik terkait krisis energi.
- Amerika Serikat berupaya menggantikan peran Uni Soviet dengan menjadikan Kuba bergantung secara finansial pada Washington.
Narasi ini diperkuat oleh pernyataan para sekutu dekat Trump, termasuk Senator Lindsey Graham, yang secara terbuka melontarkan prospek jatuhnya pemerintahan Kuba.
Atmosfer ini kian memanas seiring dengan pecahnya demonstrasi di beberapa wilayah Kuba selama akhir pekan lalu.
Di kota Moron, para pengunjuk rasa dilaporkan melempari batu dan membakar kantor Partai Komunis setempat sebagai bentuk frustrasi atas krisis energi dan ekonomi.
Surat kabar pemerintah, Granma, melaporkan bahwa lima orang telah ditangkap dan satu orang dilarikan ke rumah sakit akibat insiden tersebut.
Menanggapi situasi ini, Trump memberikan komentar singkat namun sarat makna, "Orang-orang telah menunggu selama 50 tahun untuk mendengar cerita ini tentang Kuba."
Strategi "Pengambilalihan" Ekonomi ala Soviet
Banyak analis melihat bahwa keberhasilan AS dalam menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam operasi bulan Januari lalu telah menjadi cetak biru bagi rencana perubahan rezim di Kuba.
Sumber yang memahami pemikiran Trump menyebutkan, sang presiden ingin menggunakan tekanan ekonomi AS untuk membuat Kuba secara finansial bergantung pada Washington.
Tujuan akhirnya sangat ambisius: Amerika Serikat ingin mengambil alih posisi yang dulunya ditempati oleh Uni Soviet.
Baca Juga: Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
Sebelum runtuh pada tahun 1991, Uni Soviet adalah penyokong utama yang menjaga napas ekonomi Kuba tetap berdenyut.
Dengan membuat Kuba bergantung pada AS, Washington berharap dapat mengontrol arah politik negara tersebut secara permanen.
Respons Diaz-Canel: Negosiasi atau Perlawanan?
Pemerintah Kuba sendiri tidak tinggal diam. Presiden Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi pada hari Jumat bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pejabat AS.
Diaz-Canel menyatakan bahwa kedua pihak sedang menjajaki "solusi potensial untuk perbedaan bilateral kita."
Meski membuka pintu dialog, Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba hanya bersedia bernegosiasi jika diposisikan sebagai mitra yang setara, bukan sebagai negara bawahan yang didikte oleh kemauan Washington.
Di sisi lain, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan intervensi militer, Diaz-Canel juga telah memperingatkan bahwa negaranya sedang memperkuat pertahanan militernya secara besar-besaran.
Ketegangan ini menempatkan Kuba dalam posisi terjepit. Di satu sisi, mereka membutuhkan pelonggaran sanksi untuk menyelamatkan rakyatnya dari kemiskinan dan kegelapan akibat pemadaman listrik.
Sementara di lain sisi, mereka menghadapi presiden AS yang tampaknya tidak akan berhenti sampai rezim komunis di Havana benar-benar tunduk atau runtuh total di bawah kaki Washington, segera setelah urusannya dengan Iran selesai.
Berita Terkait
-
Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
-
Tampan dan Pemberani, Javier Bardem Kritik Pedas Trump-Netanyahu di Panggung Oscar 2026
-
Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
-
Jebakan Iran di Pulau Kharg, Serangan AS Justru Bisa Picu 'Kiamat' Ekonomi Barat
-
Dunia Wajib Was-was! Nafsu Trump Bikin 440 Kg Uranium Terkubur di Bawah Fasilitas Nuklir
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga