- Polda Metro Jaya menganalisis 86 titik rekaman CCTV untuk mengusut kasus penyiraman air keras pada Andrie Yunus KontraS.
- Rekaman tersebut berjumlah 2.610 potongan video dengan total durasi panjang untuk analisis digital mendalam.
- Pelaku diduga berjumlah empat orang menggunakan dua motor, mengikuti korban dari Jaksel hingga Salemba pada Kamis (12/3).
Suara.com - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya tengah menganalisis puluhan rekaman kamera pengawas guna mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, mengatakan penyidik telah mengumpulkan 86 titik kamera pengawas (CCTV) dari berbagai lokasi di sekitar jalur yang diduga dilalui para pelaku.
"Ada 86 titik kamera pengawas yang kami ambil sehubungan dengan titik-titik di mana diduga para pelaku penyiraman ini mulai berangkat dan kembalinya," kata Iman saat konferensi pers di Gedung Promoter Polda Metro Jaya dikutipa dari antara, Senin.
Menurut dia, puluhan kamera tersebut berasal dari berbagai sumber. Sebanyak tujuh titik CCTV dari sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), 27 kamera milik Diskominfotik, delapan kamera dari Dinas Perhubungan, serta 44 kamera milik warga.
Dari seluruh rekaman itu, polisi menemukan 2.610 potongan gambar dalam bentuk video dengan total durasi sekitar 10.320 menit. Jumlah rekaman yang sangat besar tersebut membuat penyidik membutuhkan waktu cukup lama untuk melakukan analisis digital.
"Dari 86 titik kamera pengawas yang kami analisa, ada 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Sehingga kami membutuhkan waktu cukup lama dalam menganalisa digital terhadap video rekaman CCTV," ujarnya.
Berdasarkan analisis sementara, penyidik menduga para pelaku telah mengikuti pergerakan korban sebelum kejadian. Pergerakan itu terdeteksi melalui sejumlah kamera pengawas di beberapa titik jalan di Jakarta.
Iman menjelaskan, para terduga pelaku diduga bergerak dari wilayah Jakarta Selatan menuju titik kumpul awal di Jalan Merdeka Timur, sekitar depan Stasiun Gambir. Setelah itu, mereka menunggu korban di depan sebuah restoran cepat saji di kawasan Cikini.
Polisi menduga terdapat empat orang pelaku yang menggunakan dua sepeda motor. Mereka kemudian mengikuti korban yang bergerak menuju Jalan Diponegoro hingga ke arah Jalan Salemba 1.
Baca Juga: Kronologi Baru Kasus Andrie Yunus: TAUD Ungkap Temuan Botol yang Dibuang Pelaku dari Motor
Aksi penyiraman air keras itu terjadi pada Kamis (12/3) sekitar pukul 23.37 WIB di Jalan Salemba 1, persimpangan Jalan Talang, Jakarta Pusat.
"Saat kejadian kami memperoleh rekaman CCTV dengan gambar yang cukup jelas sehingga ini sangat membantu dalam proses penyelidikan dan penyidikan," kata Iman.
Ia menambahkan, keberadaan banyak kamera pengawas di jalan utama maupun jalur alternatif di Jakarta sangat membantu penyidik dalam mengungkap peristiwa tersebut. Selain jumlahnya yang banyak, sebagian besar CCTV juga memiliki resolusi tinggi sehingga memungkinkan identifikasi visual yang lebih jelas.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menegaskan pihaknya berkomitmen mengusut tuntas kasus tersebut.
Menurut Budi, penyelidik saat ini bekerja intensif untuk mengidentifikasi serta menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tersebut.
"Fokus utama Kepolisian adalah mengungkap identitas serta menangkap pelaku di balik aksi kriminal yang mencederai demokrasi tersebut melalui pendekatan scientific crime investigation," kata Budi.
Berita Terkait
-
Kronologi Baru Kasus Andrie Yunus: TAUD Ungkap Temuan Botol yang Dibuang Pelaku dari Motor
-
Tim Advokasi: Penyiraman Air Keras ke Aktivis Kontras Adalah Percobaan Pembunuhan Berencana
-
Mata Kanan Terluka Parah, Begini Kondisi Medis Korban Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
-
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?
-
Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Diduga Aktor Terlatih, Polisi: Pelaku Memiliki Ketenangan
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Demo di Istana Siang Ini! Mahasiswa UBK Bawa 6 Tuntutan: Stop MBG hingga Tolak Militerisme
-
AS dan Iran Sepakati Gencatan Senjata, Donald Trump: Biarkan Minyak Mengalir!
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan