News / Internasional
Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47 WIB
Ilustrasi bendera Israel. Nafsu untuk mengalahkan Iran di medan perang ternyata menyeret Israel pada ancaman krisis finansial. (Pixabay, Jorono)
Baca 10 detik
  • Israel menghadapi ancaman krisis finansial akibat serangan militer terhadap Iran dipimpin Netanyahu dan Trump pada 28 Februari 2026.
  • Serangan militer AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, namun belum menunjukkan tanda kemenangan signifikan.
  • Agresi perang menyebabkan defisit anggaran Israel melonjak dari 3,9 persen menjadi 5,1 persen dari PDB.

Suara.com - Nafsu untuk mengalahkan Iran di medan perang ternyata menyeret Israel pada ancaman krisis finansial.

PM Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS, Donald Trump pada 28 Februari 2026 tanpa persetujuan dari PBB, menyerang Iran.

Serangan militer AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Serangan awal AS-Israel juga salah sasaran dan menghancurkan sekolah putri, menewaskan ratusan anak-anak.

Memasuki pekan ketiga agresi militer AS-Israel ke Iran ini belum ada tanda-tanda Netanyahu dan Trump meraih kemenangan.

Justru Israel dihadapkan pada situasi sulit yakni jebolannya anggaran pemerintah untuk biaya perang.

Salah satu media Israel, Calcalist dalam ulasannya menyebut Benjamin Netanyahu mengambil resiko besar dengan menggunakan miliaran shekel demi menang perang melawan Iran.

"Langkah ini langsung memicu lonjakan defisit anggaran negara. Dari target awal sekitar 3,9 persen, angka defisit melonjak hingga menembus 5,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)," ulas media Israel itu.

Menurut Calcalist, pejabat Kementerian Keuangan sebenarnya mencoba menahan laju kenaikan anggaran. Namun tekanan kuat dari militer dan keputusan politik membuat upaya tersebut gagal total.

Pihak militer disebut mengancam jika dana besar tak digelontorkan maka ada hal yang tidak bisa dipenuhi militer.

Baca Juga: Donald Trump Tantrum, Sebut Sekutu Tak Tahu Terima Kasih Usai Tolak Amankan Selat Hormuz

Sementara itu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich disebut memilih tetap melanjutkan kebijakan, meski risiko fiskal meningkat.

Keputusan itu dinilai lebih didorong pertimbangan politik ketimbang ekonomi.

Netanyahu sendiri tetap mendukung penuh peningkatan anggaran militer.

Ia sebelumnya menegaskan ambisi mencapai kemenangan penuh dalam perang yang melibatkan beberapa front sekaligus, Iran dan Hizbulloh.

Namun dampak ekonomi mulai terasa. Laporan terbaru menunjukkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel untuk 2026 diturunkan signifikan, sementara beban utang negara terus meningkat.

“Defisit di atas 5 persen selama beberapa tahun akan berbahaya,” ungkap salah satu pejabat keuangan.

Load More