News / Nasional
Selasa, 17 Maret 2026 | 18:56 WIB
Rambo (kiri) dan Jaya (kanan) Porter Blok B, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. [Suara.com/Dinda]
Baca 10 detik
  • Para kuli panggul di Pasar Tanah Abang tetap bekerja jelang Lebaran meskipun pembeli cenderung menurun drastis.
  • Porter bertahan mencari penghasilan tambahan, termasuk menunggu Tunjangan Hari Raya (THR) sebelum mudik ke kampung halaman.
  • Penurunan transaksi disebabkan kondisi bencana yang melemahkan daya beli masyarakat serta sepinya aktivitas sejak H-5.

Suara.com - Suasana jelang Lebaran di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak sepenuhnya ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah lalu lalang pembeli yang cenderung menurun, para kuli panggul atau porter masih bertahan mencari penghasilan terakhir sebelum pulang ke kampung halaman.

Jaya, salah satu porter Blok B Pasar Tanah Abang asal Tangerang, mengaku tetap bekerja hingga mendekati hari raya demi mengumpulkan pemasukan. Ia memilih menunda kepulangan meski jarak kampungnya relatif dekat.

“Ya paling kita yang namanya kerja di sini, ya paling nunggulah gitu… nunggu ada kerjaan gitu kan. Kalau ngga ada ya ngga apa-apa. Paling THR-an gitu dari bos-bos gitu doang sih,” ujarnya saat ditemui di lantai SLG, Blok B Pasar Tanah Abang, Selasa (17/3/2026).

Meski begitu, Jaya memastikan dirinya tetap akan mudik. Ia berencana pulang dua hari sebelum Lebaran karena perjalanan ke kampung halamannya di Banten hanya memakan waktu sekitar dua jam.

“Pasti mudik, deket sih dua jam paling,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan Ujang Rambo, porter lainnya yang berasal dari Pandeglang, Banten. Ia memilih bertahan bekerja hingga mendekati hari keberangkatan demi memaksimalkan pendapatan, meski kondisi tahun ini dinilai tidak sebaik sebelumnya.

“Kalau pendapatan sebelum Lebaran ya dikarenakan ini keadaan banyak musibah, akses pembelanjaan itu agak kurang gitu ya, menurun. Pelanggan-pelanggan agak kurang gitu, tapi kalau buat makan mah sehari-hari ada ajalah,” kata Rambo.

Menurutnya, penurunan jumlah pembeli dipengaruhi berbagai bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat melemah, bahkan menggeser pola belanja menjadi lebih terbatas.

“Kalau yang tahun lalu kan orang pada turun semua ke Pasar Tanah Abang, belanja-belanja kirim ke ekspedisi pakai porter… sampai H-3 aja pun masih kerjaan masih lumayan. Ini udah dari hari Sabtu kemarin H-5 aja sepi,” jelasnya.

Baca Juga: Masjid Perahu di Cilacap Jadi Rest Area Favorit Pemudik Jalur Selatan

Meski aktivitas menurun, pekerjaan sebagai porter tetap dijalani dengan segala suka dan duka. Rambo mengaku ada kalanya pekerjaan terasa berat, terutama saat harus mengulang pengiriman barang akibat kesalahan tujuan.

“Kadang kita yang sedihnya begini, pengiriman ke ekspedisi buat luar kota kadang ngga jadi gitu… Sudah barang terkirim ke ekspedisi, ‘Bang tolong saya bukan buat tujuan kiriman ke sana,’ katanya ngga jadi,” tuturnya.

Selain itu, faktor cuaca juga menjadi kendala tersendiri. Rambo mengungkapkan, hujan kerap menghambat proses pengiriman barang, bahkan memaksa mereka tetap bekerja dalam kondisi basah demi memenuhi permintaan pelanggan.

“Kadang kita kehujanan bawa barang… barang ditutupin pake plastik kitanya yang kehujanan,” katanya.

Di tengah ketidakpastian pendapatan, para kuli panggul tetap memegang satu tujuan utama, yaitu pulang ke kampung halaman. Bagi mereka, mudik bukan sekadar tradisi, melainkan momen berkumpul dengan keluarga yang dirindukan.

“Yang kita kangenin itu kan kita untuk kumpul keluarga silaturahmi, ziarah ke makam-makam orang tua,” ujar Rambo.

Load More