- Para kuli panggul di Pasar Tanah Abang tetap bekerja jelang Lebaran meskipun pembeli cenderung menurun drastis.
- Porter bertahan mencari penghasilan tambahan, termasuk menunggu Tunjangan Hari Raya (THR) sebelum mudik ke kampung halaman.
- Penurunan transaksi disebabkan kondisi bencana yang melemahkan daya beli masyarakat serta sepinya aktivitas sejak H-5.
Suara.com - Suasana jelang Lebaran di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak sepenuhnya ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah lalu lalang pembeli yang cenderung menurun, para kuli panggul atau porter masih bertahan mencari penghasilan terakhir sebelum pulang ke kampung halaman.
Jaya, salah satu porter Blok B Pasar Tanah Abang asal Tangerang, mengaku tetap bekerja hingga mendekati hari raya demi mengumpulkan pemasukan. Ia memilih menunda kepulangan meski jarak kampungnya relatif dekat.
“Ya paling kita yang namanya kerja di sini, ya paling nunggulah gitu… nunggu ada kerjaan gitu kan. Kalau ngga ada ya ngga apa-apa. Paling THR-an gitu dari bos-bos gitu doang sih,” ujarnya saat ditemui di lantai SLG, Blok B Pasar Tanah Abang, Selasa (17/3/2026).
Meski begitu, Jaya memastikan dirinya tetap akan mudik. Ia berencana pulang dua hari sebelum Lebaran karena perjalanan ke kampung halamannya di Banten hanya memakan waktu sekitar dua jam.
“Pasti mudik, deket sih dua jam paling,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan Ujang Rambo, porter lainnya yang berasal dari Pandeglang, Banten. Ia memilih bertahan bekerja hingga mendekati hari keberangkatan demi memaksimalkan pendapatan, meski kondisi tahun ini dinilai tidak sebaik sebelumnya.
“Kalau pendapatan sebelum Lebaran ya dikarenakan ini keadaan banyak musibah, akses pembelanjaan itu agak kurang gitu ya, menurun. Pelanggan-pelanggan agak kurang gitu, tapi kalau buat makan mah sehari-hari ada ajalah,” kata Rambo.
Menurutnya, penurunan jumlah pembeli dipengaruhi berbagai bencana yang terjadi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat melemah, bahkan menggeser pola belanja menjadi lebih terbatas.
“Kalau yang tahun lalu kan orang pada turun semua ke Pasar Tanah Abang, belanja-belanja kirim ke ekspedisi pakai porter… sampai H-3 aja pun masih kerjaan masih lumayan. Ini udah dari hari Sabtu kemarin H-5 aja sepi,” jelasnya.
Baca Juga: Masjid Perahu di Cilacap Jadi Rest Area Favorit Pemudik Jalur Selatan
Meski aktivitas menurun, pekerjaan sebagai porter tetap dijalani dengan segala suka dan duka. Rambo mengaku ada kalanya pekerjaan terasa berat, terutama saat harus mengulang pengiriman barang akibat kesalahan tujuan.
“Kadang kita yang sedihnya begini, pengiriman ke ekspedisi buat luar kota kadang ngga jadi gitu… Sudah barang terkirim ke ekspedisi, ‘Bang tolong saya bukan buat tujuan kiriman ke sana,’ katanya ngga jadi,” tuturnya.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi kendala tersendiri. Rambo mengungkapkan, hujan kerap menghambat proses pengiriman barang, bahkan memaksa mereka tetap bekerja dalam kondisi basah demi memenuhi permintaan pelanggan.
“Kadang kita kehujanan bawa barang… barang ditutupin pake plastik kitanya yang kehujanan,” katanya.
Di tengah ketidakpastian pendapatan, para kuli panggul tetap memegang satu tujuan utama, yaitu pulang ke kampung halaman. Bagi mereka, mudik bukan sekadar tradisi, melainkan momen berkumpul dengan keluarga yang dirindukan.
“Yang kita kangenin itu kan kita untuk kumpul keluarga silaturahmi, ziarah ke makam-makam orang tua,” ujar Rambo.
Meski harus menunda kepulangan demi mengejar cuan di hari-hari terakhir jelang Lebaran, para porter ini tetap memastikan satu hal: mereka akan pulang, bagaimanapun kondisinya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Masjid Perahu di Cilacap Jadi Rest Area Favorit Pemudik Jalur Selatan
-
Tanah Abang Bergeliat: Tren Butter Yellow hingga Paper Silk Jadi Primadona
-
Arus Mudik Lebaran 2026 Mulai Padat Sebanyak 28 Persen Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta
-
Ditipu Sehari Sebelum Mudik, Yunita Tetap Pulang Demi Orang Tua
-
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 di Tol Jogja-Solo Diprediksi 18 Maret
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular