News / Internasional
Rabu, 18 Maret 2026 | 21:49 WIB
Ilustrasi Kremlin di Moskow (Unsplash/Serhii Tyaglovsky)
Baca 10 detik
  • Kremlin, melalui Juru Bicara Dmitry Peskov, membantah keras laporan mengenai bantuan teknologi drone dan satelit kepada Iran.
  • Wall Street Journal sebelumnya melaporkan Rusia menyediakan data intelijen dan peningkatan teknologi militer untuk akurasi serangan Iran.
  • Analis menilai taktik serangan drone Iran saat ini menunjukkan kesamaan signifikan dengan operasi militer yang dilakukan Rusia di Ukraina.

Suara.com - Kremlin membantah laporan media Amerika yang menyebut Rusia membantu Iran dengan teknologi drone dan citra satelit untuk menyerang posisi pasukan AS di Timur Tengah.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan laporan tersebut tidak benar.

“Laporan itu adalah fake news,” kata Peskov menanggapi berita Wall Street Journal yang menyebut Moskow memperluas kerja sama militer dengan Teheran.

Ia menolak tuduhan bahwa Rusia memberikan data intelijen atau teknologi militer untuk membantu Iran menargetkan pasukan Amerika.

Sebelumnya, Wall Street Journal melaporkan Rusia diduga membagikan citra satelit dan teknologi drone yang ditingkatkan untuk membantu Iran meningkatkan akurasi serangan.

Drone Shahed 136 milik Iran. (Tasnim)

Laporan itu mengutip sejumlah sumber yang mengetahui kerja sama intelijen antara kedua negara.

Menurut laporan tersebut, bantuan Rusia disebut mencakup peningkatan sistem navigasi, komunikasi, dan penargetan pada drone Iran.

Teknologi itu diklaim membantu Teheran dalam operasi militer terhadap target Amerika di kawasan Teluk.

Namun Kremlin menegaskan tuduhan tersebut tidak berdasar dan menilai laporan media Barat sering digunakan untuk menekan Rusia di tengah konflik global.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Tim Koordinasi Hadapi Investigasi Perjanjian Dagang RI-AS

Peskov tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi menegaskan Moskow tidak terlibat dalam operasi militer Iran.

Sementara itu, menurut analis, serangan drone Iran kini lebih efektif dibandingkan konflik 12 hari sebelumnya, dengan fokus pada sistem radar dan pusat komando, mirip dengan taktik Rusia di Ukraina.

Nikol Grajefski, profesor Sciences Po Paris, menambahkan, “Serangan Iran di Teluk Persia sangat mengingatkan pada operasi Rusia.”

Samuel Charap dari RAND Corporation menilai, “Konflik ini memberi Rusia kesempatan merasakan sendiri dukungan intelijen yang diberikan AS kepada Ukraina, sekaligus menekan Washington secara strategis.”

Kontributor: M.Faqih

Load More