News / Nasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 20:18 WIB
Menag Nasaruddin Umar. (Dok. NU)
Baca 10 detik
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau umat Islam untuk saling menghormati perbedaan Idul Fitri 1447 H.
  • Pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh Sabtu (21/3) berdasarkan kriteria MABIMS, berbeda dari Muhammadiyah.
  • Perbedaan penetapan hari raya terjadi karena perbedaan metode perhitungan yang digunakan antara kedua pihak.

Suara.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta umat Islam di Indonesia untuk saling menghormati perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, termasuk terhadap warga Muhammadiyah yang merayakan lebih dulu besok, Jumat (20/3).

Hal ini disampaikan menyusul adanya perbedaan penetapan 1 Syawal antara pemerintah dan sebagian organisasi masyarakat Islam. Nasaruddin mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan jarak di tengah masyarakat.

“Kepada rekan-rekan kita yang mungkin akan berlebaran besok, kami mohon supaya bertoleransi terhadap saudara-saudara yang masih melanjutkan puasanya sampai 30 hari sesuai hasil Sidang Isbat,” ujar Nasaruddin dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga persatuan sebagai sesama umat Islam dan warga negara, meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan hari raya.

“Kepada mereka yang berbeda dengan keputusan pemerintah, jangan ada jarak di antara kita. Kita sebagai sesama warga bangsa dan umat Islam, jangan karena perbedaan itu membuat kita berjarak satu sama lain,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu (21/3). Keputusan itu diambil karena dari pemantauan hilal di sejumlah daerah tidak ada yang telah memenuhi kriteria MABIMS, yaitu standar yang digunakan Indonesia bersama Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Dalam kriteria tersebut, hilal umumnya dinyatakan berpotensi terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Fitri pada Jumat (20/3). Perbedaan penetapan waktu lebaran itu terjadi akibat bedanya metode perhitungan yang diterapkan oleh Muhammadiyah dengan pemerintah.

Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal atau hilal sudah wujud meski belum terlihat.

Baca Juga: Resmi! Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026, Ini Hasil Sidang Isbat Kemenag

Sementara Kemenag menggunakan dua pendekatan untuk menentukan 1 Syawal tersebut. Yakni, hisab yaitu perhitungan astronomi dengan menghitung posisi hilal secara matematis. Serta rukyat atau pengamatan langsung dengan melibatkan tim pemantau di berbagai lokasi.

Load More